Jika Kamu Itu Dia…???

Siang hari ini begitu terik membuat kulit terasa terbakar, Aku sibuk berusaha untuk mencari tempat berteduh dari teriknya sinar matahari. Hari ini aku sedang mendapat tugas menjaga perpustakaan setelah pulang sekolah. Tapi, karena giliranku untuk istirahat aku bergantian menjaga perpustakaan dengan Meta teman satu kelasku yang mendapat tugas piket bersamaku. Aku mengibas-ngibaskan tanganku untuk mendapatkan angin. Tapi, tunggu mataku sekejap tertuju pada seseorang dilapangan basket yang sedang asyik memainkan bola dan memasukkannya kedalam ring. Hup… masuk!

“ya ampun nggak panas apa siang-siang gini main basket?” aku mencari kaleng minumanku yang sudah habis dan membuangnya ketempat sampah aku berniat kembali keperpustakaan.

Jalan menuju perpustakaan melewati lapangan basket, jelas saja aku menjadi memperhatikan sosok itu. Tanpa sadar Ia pun memperhatikanku dan melemparkan senyumnya kepadaku. Ya ampun manis banget…? Aku membalas senyumnya sumringah. Setelah itu aku kembali berjalan menuju perpustakaan.

“Renia…?” seseorang memanggilku, aku menoleh kearah suara yang memanggilku.

Ya ampun yang tadi, kenapa dia bisa tau nama gue ya? Aku menjadi salah tingkah dan berhenti berjalan. Ia berjalan semakin mendekat sambil terus tersenyum.

“Elo Renia anak kelas dua tigakan? Gue Jo kelas tiga Ipa satu.” Ia mengulurkan tangannya kepadaku. Dengan malu-malu aku membalas uluran tangannya sambil mengangguk.

“ko’ elo belum balik?” Ia kembali bertanya padaku.

“Aku lagi tugas jaga perpustakaan.”

“oh… nanti balik jam berapa? Gue selesai basket jam tiga, mau balik bareng nggak?” Ia tersenyum manis kepadaku, membuatku semakin gemetar.

“Aku setengah empat baru selesai tugas.”

“Cuma setengah jam bedanya, jadi nanti gue tunggu elo dilapangan basket aja ya. Serius lo gue tunggu, ya udah gue latihan lagi ya?” Ia berbalik meninggalkanku tanpa menunggu jawaban dariku.

Tak terasa sudah setengah empat, aku membereskan buku-buku dan setelah selesai segera keluar bersama Meta.

“Elo bareng gue nggak?” Meta bertanya padaku.

“Kayaknya nggak deh, gue mau ketemu seseorang dulu baru pulang.” Meta mengangguk dan langsung berjalan pergi meninggalkanku.

Aku berjalan menelusuri koridor sekolah menuju lapangan basket, Aku juga sebenarnya tidak tahu kenapa aku mau menemuinya padahal aku belum begitu kenal dengannya. Semakin lama langkahku semakin mendekati lapangan basket. Jo yang sedang duduk dipinggir lapangan sigap berdiri setelah melihat kedatanganku. Aku hanya tersenyum menatapnya. Jo menarik tanganku menuju parkiran. Sesampainya diparkiran Ia berhenti dan merogoh tasnya mencari kunci mobilnya. Setelah menemukan kunci mobil Ia segera membukakan pintu untukkku dan mempersilahkan aku masuk. Setelah menutup pintu Iapun segera masuk kedalam mobil menyalakannya dan mulai menjalankan mobilnya. Mobil berjalan tenang dijalan raya, Ia mencari kaset VCD dan segera memutarnya.

“Kenapa diam aja, Elo takut sama gue? Tenang aja gue orang baik-baik kok” Ia sekilas menatapku kemudian kembali menatap lurus kejalan.

“Nggak kok aku nggak takut, aku Cuma malu?” Aku mencoba melirik memperhatikan sosok diampingku ini.

“Malu kenapa santai aja lagi, rumah elo dimana? Biar gue antar sampe rumah.” Ia kembali menatapku sekilas.

“nggak usah, biar aku turun dipertigaan?” aku menolak.

“Udah elo nggak usah ngerasa sungkan kali, gue anter elo sampe depan rumah dengan selamat.” Aku hanya tersenyum mendengarnya.

Sudah hampir tiga bulan aku dekat dengan Jo. Ia sangat baik kepadaku, Ia juga sering datang kerumahku begitupun sebaliknya Ia selalu mengajakku untuk datang kerumahnya. Seperti kali ini Ia mengajakku kerumahnya untuk yang kesekian kali. Jo anak tunggal, kedua orang tuanya sibuk bekerja jadi, yang tinggal di Rumah bertingkat tiga yang mempunyai halaman sangat luas itu hanya Jo dan empat orang pembantu. Pintu belakang yang beraksen ukiran jawa terlihat begitu mewah dengan hiasan dinding disampingnya. Aku duduk dipinggir kolam renang yang cukup luas sambil memasukkan kakiku kedalamnya. Airnya terasa begitu sejuk. Jo datang dengan membawa dua gelas jus alpukad kesukaanku dan Jo.

“Ada yang mau gue omongin sama elo, serius!” Jo menatapku lembut.

“Apa?” Aku tersenyum kepadanya.

“Elo mau jadi pacar gue?” Jo bangkit dari duduknya.

Aku terkejut dengan apa yang baru saja Jo katakan. Ia kembali menatapku.

“Cuma elo yang paling gue sayang, nggak ada yang bisa kayak elo?” Jo kembali duduk disampingku.

Tak terasa air mataku menetes membasahi kedua pipiku, Aku senang sekaligus kecewa mendengar apa yang baru saja Joana Askira katakan.

Aku menyayangi Jo, karena Jo sangat baik kepadaku. Tapi, seandainya…? seandainya saja Jo benar seorang Cowok pasti aku sudah menerima ungkapan cintanya. Joana Askira adalah ketua tim basket putri, penampilannya saja seperti layaknya seorang cowok tapi, bagaimanapun Jo adalah seorang cewek!!!

Bogor, 29.Maret.2007