¤…Tapi bukan aku,.

“Oke… gue setuju!” Suara Ten yang lagi bikin kesepakatan sama Dim.

Lisma yang nggak mengerti Cuma bisa merhatiin kedua sahabatnya yang berkelakuan aneh itu. Lisma geleng-geleng kepala sambil beranjak, tapi belum Lisma berdiri Ten menarik lengannya hingga Ia kembali terduduk.

“Aduh… apaan sih, sakit tau?” Lisma langsung melepaskan pegangan tangan Ten yang membuat lengannya memerah.

“Sory-sory, gue mau minta pendapat elo tentang cewek yang ada di- seberang sana, menurut elo dia cantik nggak?” Tangan Ten menunjuk rumah yang ada di seberang kamar Lisma.

Mata Lisma langsung tertuju kearah jari Ten. Sambil memerhatikan kedua sahabatnya bolak-balik. Lisma menatap menyelidik kearah dua sahabatnya itu, sambil memainkan rambutnya yang panjang dan hitam berkilau.

Dulu Lisma sempat di tawari untuk membintangi sebuah iklan shampo karena rambutnya yang bagus dan panjang, bukan itu saja wajahnya yang blasteran menjadi daya tarik juga untuk para pencari bakat. Tapi, itu tak lekas menjadikan Lisma cepat terbujuk untuk menjadi bintang iklan. Walaupun kedua sahabatnya itu berprofesi sebagai model, Lisma merasa dirinya kurang tertarik dengan dunia gemerlapnya artis-artis ataupun bintang iklan bahkan sampai model sekalipun.

“Oh… itu, cewek yang selalu pake bandana di rambutnya. Kenapa kalian bedua naksir sama dia?” Lisma berdiri menghadap beranda rumahnya yang tepat berhadapan langsung dengan Rumah Kira.

Kira cewek cantik tetangga Lisma yang berprofesi sebagai model juga seperti kedua sahabatnya, Lisma nggak begitu mengenal dekat dengan tetangganya yang satu itu, walaupun mereka berdekatan rumah, karena Kira bener-bener super sibuk sampai hampir setiap hari nggak ada di rumahnya.

“Kalian kenal di mana? Kok bisa tahu kalau rumahnya di situ?” Lisma membelakangi beranda kamarnya.

“Gini lho Lis, gue sama Dim kan kemarin keclub eh.. kenalan sama Kira. Ya elo taukan kita berdua ini model jadi nggak herankan kalo kita bisa kenalan sesama model!” Ten menjelaskan panjang lebar yang hanya ditanggapi dengan anggukan oleh Lisma.

“Tapi, gue perhatiin Cuma elo deh yang nafsu banget nanya tentang Kira?” Lisma kembali menyelidik.

“Ya iyalah, orang ni makhluk satu udah punya gebetan!” Ten merangkul bahu Dim yang sejak tadi hanya diam memerhatikan Lisma.

Ya ampun ternyata Dim sudah punya seseorang yang Ia sukai, gimana sama gue ya?

“Terus tadi ngapain kalian bikin kesepakatan?” Lisma menggaruk-garuk kepalanya yang sebetulnya nggak gatal.

“Oh, kalo itu rahasia perusahaan? Ini rahasia antara cowok dengan cowok yang ngerasa cewek nggak boleh tahu!” Ten berdiri dan berjalan kearah Lisma sambil mengambil bunga mawar kertas yang tertancap di Vas bunga.

“Bunga ini kupersembahkan untukmu putriku yang cantik?” Ten berlutut sambil menyodorkan bunga yang di pegangnya kepada Lisma. Lisma tersenyum sambil mengambil bunga pemberian Ten.

“Terima kasih pangeran!” setelah mengambil bunga Lisma menjitak kepala sahabatnya itu.

“Aduh…! Kok gue di jitak sih?” Ten mengusap-usap kepalanya.

“Abisnya elo konyol banget sih, gue tuh lebih suka cowok yang cool kayak Dim di banding cowok konyol kayak elo!” Ten memajukan bibirnya dan siap-siap untuk mengelitiki Lisma.

Lisma yang tahu apa yang akan Ten lakukan langsung lari dan memeluk Dim. Dim yang tahu kejahilan Ten langsung meyuruhnya untuk menghentikan kejahilannya.

“Dim, tolongin gue? Gue nggak mau di kelitiki sama Ten.” Lisma berkata manja kepada Dim.

“Ten udah dong, elo jangan jail sama Lisma kasian kan Dia?”

“Ah.. elo Dim nggak asyik banget, biar nih anak tau rasa udah ngomong gitu sama gue?” Ten masih berusaha mengejar Lisma.

“Ampun-ampun, gue nggak akan lagi-lagi deh… janji!” Lisma mengangkat telapak tangannya dengan dua jari membentuk hurup v.

 

“Apa… elo yakin udah jadian sama Kira?” Lisma langsung menutup teleponnya.

Sialan elo emang pagar makan tanaman, ngaku nggak pernah tertarik sama Kira nyatanya udah bertindak sejauh ini. Ok kita akan liat sampai mana elo bisa tahan sama semua ini???…

Lisma berjalan limbung, Ia nggak pernah tahu kalau yang jadi gebetan Dim ternyata Kira juga. Lisma udah menduga nggak mungkin Dim nggak akan tertarik dengan Kira. Lisma berjalan terus dengan kepalanya yang semakin lama semakin terasa berat. Lisma menyeberangi jalan di kompleks tanpa tahu ada sebuah mobil melaju kencang kearahnya sampai semuanya terasa hitam dan gelap. Ten yang tahu keadaan Lisma dari rumah sakit yang menangani Lisma langsung bergegas melihat keadaan Lisma. Ten benar-benar menyesal melihat Lisma terbujur koma. Ia nggak tahu apa lagi yang bisa di lakukan untuk menyelamatkan sahabat kesayangannya itu. Ten memencet beberapa angka di handfhonenya. Terdengar suara menyapa diseberang sana, Ten nggak kuat kalau nggak nangis akhirnya suaranya pecah.

“ELO HARUS TANGGUNG JAWAB!!!” suara Ten membentak.

“Tunggu-tunggu ada apa ni?” Dim yang bingung dengan perkataan Ten balik bertanya.

“Sekarang lebih baik elo datang kerumah sakit, di sini elo akan ngerti dengan apa yang gue katakan.” Ten memutuskan sambungan teleponnya itu.

Ten terus saja memandangi wajah Lisma yang pucat dan sedikit lebam di bagian pipi dan keningnya. Ten merasakan sesak melihat keadaan Lisma yang sangat lemah.

“Lisma…?” tiba-tiba tante Nirma datang dan segera memeluk anak semata wayangnya yang terbujur lemah tak berdaya di kamar rumah sakit.

“Maafin aku ya tante, aku nggak bisa jagain Lisma dengan baik?” Ten terduduk lemas di lantai.

“Kamu nggak salah apa-apa kok Ten, tante yang harusnya minta maaf sama kamu dan Lisma, karena tante sudah kurang memerhatikan Lisma.” Tante Nirma kembali memandangi putrinya.

“Ten…?” suara Dim yang datang bersama Kira.

Ten yang melihat pemandangan yang nggak menyenangkan itu langsung membawa mereka berdua keluar dari kamar rumah sakit. Ten benar-benar kalut dan segera memukul Dim. Dim yang kaget sontak berusaha menghindar, tapi terlambat sebuah pukulan yang cukup keras itu tepat mendarat di bagian perut Dim hingga terjatuh. Kira yang bingung segera membantu Dim untuk bangun.

“Elo, emang bajingan tengik! Elo harusnya nggak pantes di sukain sama Lisma, elo harusnya nggak usah jadi sahabat gue dan Lisma. Denger… lebih baik sekarang elo pergi bawa cewek elo jauh-jauh dari kehidupan Lisma.” Ten menunjuk kearah Dim, dan berbalik untuk pergi.

Dim yang masih bingung segera menarik tangan Ten hingga langkah Ten terhenti.

“Apa maksud elo, gue nggak ngerti?” Dim meminta penjelasan kepada Ten yang terlihat memerah menahan amarah.

“Udah gue bilang lebih baik elo pergi?” Ten menghempaskan tangan Dim.

“Elo harus jelasin ke gue apa yang terjadi?”

“Apa kata elo? Elo pikir elo paling berharga di hati Lisma, nggak Dim nggak? Elo Cuma bajingan yang bisanya Cuma ngancurin hati orang yang paling sayang sama elo. Dan lebih baik elo jauh-jauh dari kehidupan Lisma mulai saat ini!”

“Gue nggak akan pernah ninggalin Lisma?”

“Elo harus ninggalin Lisma, karena elo nggak pantes ada di hatinya!”

“Gue sahabatnya?”

“Elo nggak usah pura-pura bego lagi,  elo tau Lisma sayang dan suka sama elo, tapi apa yang elo kasih kedia harapan palsu!”

“Gue Cuma menganggap Lisma sebagai sahabat gue.”

“Seharusnya elo jelasin dari awal, kalo elo cuma menganggap dia sahabat. Elo nggak seharusnya selalu pura-pura baik di depan dia?”

“Tapi,”

“Elo itu Cuma BANCI!” Ten segera meninggalkan Dim dan Kira.

Ten kembali kekamar Lisma, Ia tidak tahu apa lagi yang harus dikatakan kepada sahabatnya itu jika Ia tersadar. Ten masuk dan melihat tante Nirma berteriak-teriak histeris memanggil-manggil Lisma yang sudah tak lagi bernyawa. Ten limbung dan terjatuh lemas kelantai. Ia tak percaya pada apa yang Ia lihat di hadapannya, sahabatnya pergi meninggalkannya tanpa ada satu katapun dapat terucap dari bibirnya.

 

Hari senin yang kelabu dan tanah pemakaman yang di jatuhi rintik-rintik air yang membuat suasana duka sangat menyergap. Ten menatap batu nisan yang bertuliskan nama sahabatnya itu. Ten mengusap lembut batu nisan itu.

“Kamu harus baik-baik ya Lisma? Aku nggak akan pernah lupa dengan semua kenangan kita, dan aku akan tetap menjagamu!” Ten berdiri dan meninggalkan pemakaman.

Ten melangkah dengan berat dan selalu melihat kearah pemakaman Lisma. Ten masuk kedalam mobil, menyalakan mesin dan melajukan mobilnya meninggalkan pemakaman.

Dari kejauhan seseorang memerhatikan pemakaman yang basah itu. Ia berjalan mendekati pemakaman dan meletakan seikat bunga dan bersujud di depan pemakaman.

“Maafin aku ya Lis, aku nggak bermaksud menyakiti hati kamu. Aku nggak pernah bermaksud Lis. Maafin aku?” Ia berdiri dan meninggalkan tanah pemakaman yang masih basah itu yang tetap membisu. Menatap kosong mengiringi kepergiannya.

 

Bogor, 03 Januari. 2007