Dream of Basket Ball…

          Oleh : Ayu

(Nur Ayu Lestari)


Prolog…

CINTA tercipta untuk dirasakan, bukan dipermainkan. Dalam kehidupan manusia terlahir berpasangan. Begitu pula CINTA, kasih sayang & ketulusan, kejujuran & kesetiaan saling berdampingan. Seiring berjalannya waktu kau akan merasakan betapa indahnya CINTA disertai sebuah kasih sayang, kejujuran dan kesetiaan yang tulus.

Menakjubkan jika manusia tahu apa artinya CINTA.

Tapi sampai kini belum ada satupun manusia yang mengetahuinya.

Mendapatkan cinta akan sangat berarti jika disertai perjuangan dan pengorbanan. Kala CINTA membelai sukma, merasuk kedalam jiwa, menembus tulang rusuk, dan menghancurkan system kerja tubuhmu. Itulah yang akan menjadi kebanggaanmu sampai maut menjemputmu.

Kegagalan bukanlah sebuah kehancuran? Tapi awal, awal dari sebuah keberhasilan yang tertunda. Abadikanlah CINTA yang kau dapatkan dan kau rasakan dalam hatimu.

Lepaskanlah semua yang membebanimu. Terbangkanlah bersama angin sejauh mungkin Sampai tak terlihat lagi.

Nikmatilah kodratmu sebagai manusia, yang harus dicintai dan mencintai. Hidup yang berarti adalah hidup yang dipenuhi oleh berjuta-juta bahkan milyaran CINTA dalam hatimu.

Bersandarlah? Bersandarlah hanya pada CINTA jangan berdusta. Katakan, katakan jika kau menyukainya dan menCINTAinya. Jangan menyakiti dirimu sendiri.

Oleh : Ayu

Nur Ayu Lestari

My Dream…

Aku tak pernah menyangka, akan seperti ini jadinya…?

Kalau saja gue nggak jatuh cinta padanya, mungkin gue nggak akan menderita seperti ini?

Kali pertama aku melihatnya saat Ia sedang mendemonstrasikan basket kepada semua murid baru di sekolah. Aku hanya bisa tersenyum dan kagum dengan permainan bola basketnya. Dan sejak saat itu aku selalu memperhatikannya bila Ia sedang melatih di lapangan. Entah apa yang membuatku sangat menyukainya? Mungkin karena Ia mempunyai tubuh yang tinggi dan terlalu sempurna dimataku? sehingga membuatku sangat menyukainya. wajahnya yang selalu kelihatan dingin terhadap semua yang mencoba mendekatinya, membuatku merasa takut untuk mencoba mendekatinya. Tetapi jika aku tetap seperti ini dada dan juga hatiku terasa semakin penuh sesak, oleh sesuatu yang mendorongku untuk menyatakan perasaanku padanya. Aku tahu tidak seharusnya aku menjadi seperti ini, tapi aku benar-benar tidak dapat mengerti apa yang harus dan ingin kupikirkan untuk semua ini.

“kenapa nggak elo deketin aja dia?”Nera membelai rambutku.

“nggak mungkin?” aku menundukkan kepala.

“apa yang nggak mungkin didunia ini? Kalau elo mau berusaha semua bisa jadi mungkin.” Nera berusaha meyakinkanku.

Aku tersenyum mendengar kata-kata Nera. Dia itu sahabatku Dan satu lagi sahabatku adalah Desta.

DestaYang juga pernah menyukai pelatih basket. Tapi sekarang ia sudah mempunyai seseorang yang menggantikan dan mengisi hatinya.

Hari-hari kulalui dengan perasaan yang selalu gundah, aku selalu memikirkannya setiap kali aku melihat semua benda yang berbentuk bulat, karena semua benda itu mengingatkanku akan bola basket. Terkadang sulit untuk jujur pada hati dan diri sendiri. Itulah yang sedang aku alami saat ini yang membuatku semakin tak berdaya.

Ya tuhan apa arti dari semua ini? Apakah aku  benar-benar merasakan jatuh cinta padanya? Ataukah ini hanya perasaan sesaat saja?

Aku menangis saat terbangun dari mimpiku, mimpiku tentangnya. Aku tak berdaya menahan rasa ini, dada terasa sesak dan kepala rasanya inginku pecahkan karena selalu memikirkannya, aku benar-benar ingin berteriak dan mengeluarkan semua perasaan yang aku rasakan padanya. Aku tahu ini terlalu bodoh jika aku berfikiran seperti itu. Tapi? Apa aku bersalah karena menyukainya. aku juga tak mau jika aku akan merasakan penderitaan seperti ini yang kini aku alami.

“uugh…?”Aku menangis sambil memegangi kepalaku.

Tapi bukan semakin merasa tenang, kapalaku malah semakin terasa penuh sesak dan seolah ingin meledak.

     apa yang seharusnya gue lakukan, jujurkah atau bertahankah gue pada perasaan yang seperti ini?

Aku semakin tak mengerti. Dan didalam ketidakberdayaan inilah hidupku menjadi lebih berwarna.

Ditempat les Desta terlihat sedang kebingungan, aku dan Nera tidak mengerti apa yang sedang Desta pikirkan. Ternyata Desta sedang mengalami masalah yang cukup rumit. Ia menyukai guru les matematika kami.

“aduh.. gue bingung nih, gimana sama Aryo?” Desta berjalan bolak-balik dikamarku.

“udah tenangin diri elo dulu? Jangan kayak setrikaan deh.” Nera menarik tangan Desta agar duduk.

“iya gue juga berusaha untuk tenang, tapi gak bisa gue terlalu panik?” Desta mengipas-ngipas wajahnya menggunakan tangan.

“gini deh, sebaiknya elo pilih yang pasti-pasti aja, jangan yang banyak resikonya.” Akhirnya aku membuka suara.

“oh my god,siapa yang harus gue pilih.” Desta menangis. aku dan Nera memeluk Desta.

“elo pilih yang terbaik buat lo, dan gue pikir Aryo sayang banget sama elo jadi, jangan pernah sia-siain orang yang sayang sam elo Cuma buat orang yang elo suka?” Desta memandangi aku dan tersenyum.

“you’re the best friend!” kami bertigapun tertawa.

“ya udah besokkan kita mau pergi liburan keBali jadi lebih baik sekarang kita pulang dan menyiapkan apa saja yang harus dibawa besok?”

“ya udah yuk kita pulang?” Nera menarik tangan Desta.

→♥←

LIBURAN… hari yang sudah kutunggu-tunggu berlibur bersama kedua sahabatku keBali. Sejak pertama kami duuk dikelas dua, kami belum pernah lagi liburan bersama.

Malam ini aku bersiap-siap packing semua barang-barang yang aku butuhkan selama liburan. Karena besok kami berangkat dengan penerbangan pertama jadi harus siap pagi-pagi sekali. Karena kami ingin sekali cepat-cepat liburan keBali.

“bi…?” aku berteriak memanggil bi Nduk dari dalam kamar.

Bi Nduk datang dengan tergopoh-gopoh.

“aya naon si enon teh teriak-teriak?” bi Nduk bertanya sambil terengah-engah kecape’an.

“bibi sayang tolong cariin t-shirt kesayangan aku yang warna biru, aku gak tahu ada dimana?” aku mengacak-acak isi lemari.

“oh yang ada gambar Tamaznianya ya non?” bi Nduk bertanya.

“Tazmania bi..?” bibi hanya mengangguk-angguk.

Lama aku dan bibi mengaduk-aduk isi lemari mencari semua barang yang aku butuhkan selama liburan keBali.

“huh… selesai juga akhirnya. Makasih ya bi, bibi udah mau bantuin aku packing barang-barang.”aku memeluk bi Nduk.

“iya non, si enon teh mau minum teu biar bibi ambilin?” aku mengangguk.

Bibi segera keluar dari kamarku untuk mengambilkan minum. Kulirik sebuah foto yang diberi bingkai tazmania kesukaanku. Wajah itu adalah orang yang sangat kusukai. Foto yang kuambil diam-diam saat ia sedang melatih basket. Aku mengeluarkannya dari bingkai dan kumasukan dalam buku agendaku.

“non.. ini minumnya bibi simpen dimeja ya?” bi Nduk meletakkan gelas kemeja.

“makasih ya bi?” bi Nduk mengangguk dan meninggalkanku lagi.

Setelah meminum juice buatan bibi aku merasa mengantuk sekali. Aku merebahkan tubuhku diatas ranjang dan akhirnya tertidur.

Pukul 05:00.wib pagi aku sudah dibangunkan alarm handfhoneku, yang sengaja kupasang agar aku tidak kesiangan.

“bi…?” aku pergi kedapur memanggil bi Nduk dengan mata yang masih mengantuk.

“eh si enon teh udah bangun? Enon mau mandi pakai air hangat?” bibi bertanya padaku. Aku mengangguk-angguk.

“oh iya bi, buatin aku sarapan ya?”

“beres non, enon teh mau sarapan nasi goreng atau roti bakar?”

“nasi goreng plus roti bakar.” Aku menjawab.

“hah…si enon teh teu salah?” bi Nduk terlihat kaget.

“nasi gorengnya buat sarapan, dan kalau roti bakarnya buat bekal.” Aku menjelaskan.

“oh.. bibi teh teurang.” Bi Nduk menjawab sambil mengangguk-angguk.

“ya udah aku mau mandi dulu?” aku segera pergi dari dapur untuk mandi.

Selesai mandi dan berpakaian aku segera sarapan. Aku meneliti lagi apa semua barang yang kuperlukan sudah terbawa semua. Suara klakson mobil, aku segera membawa barang-barangku keluar dibantu bi Nduk.

“hai…?” Nera dan Desta berteriak bersamaan. Aku hanya tersenyum.

“bi, bibi gak apa-apakan aku tinggal sendirian dirumah?” aku bertanya pada bibi.

“tenang aja non, kan ada mang Udin, lagi pula bibi teh udah bilang anak bibi teh mau kemari jadi non teh teu kudu khawatir?” aku tersenyum.

“ya udah kalau gitu aku berangkat dulu ya?” aku mencium tangan bibi, karena aku menganggap bibi sudah seperti ibuku sendiri.

“dah… bibi?” Desta dan Nera berpamitan pada bibi.

Diperjalanan menuju bandara kami selalu berbicara tentang Bali, Bali dan Bali.

“gue punya tebakan?” Nera berteriak mengagetkan aku dan Desta. Aku dan Desta berpandangan.

“gini, kenapa anak babi jalannya nunduk?” aku dan Desta berpikir.

“ayo.. ada yang tau gak?” aku dan Desta menggeleng.

“soalnya dia malu ibunya babi.” Nera menjawab polos.

“hahaha… gak lucu tau!” aku mengacak-acak rambut Nera.

“apaan sih, berantakan tau?” Nera membalas mengacak-acak rambutku, kami berdua bertengkar.

“aduh.. udah-udah kayak anak kecil aja sih kalian?” Desta merasa terganggu karena ia sedang membaca.

Aku dan Nera memandangi Desta.

“elo baca apa si Des?” aku dan Nera mendekati Desta yang duduk dikursi depan samping bang Aan supir pribadi orang tuanya Desta.

Aku dan Nera memperhatikan cover beberapa lembar kertas yang dipegang Desta. Aku terdiam ketika aku tahu gambar apa yang terdapat dicover tersebut.

“elo kenapa Dhe?” Nera bertanya padaku.

“gue jadi ingat pelatih basket.” Aku memandang keluar jendela mobil.

“hu.. gue kirain kenapa? Udahlah kita bertigakan mau liburan jadi jangan mikirin itu dulu ya?” Nera membelai bahuku.

Aku hanya mengangguk.

“ya udah elo jangan sedih lagi ya? Udah mau sampai bandara tuh.” Aku tersenyum.

Bali I’m Coming…

Tiba dibandara kami bertiga langsung membawa barang-barang keluar dari mobil dan menaikinya keatas troly yang sudah disediakan. Ternyata tak berapa lama pesawat yang kami tumpangi sudah datang. Kami bertiga langsung naik dan duduk dikursi kami masing-masing. Nera dan Desta duduk berdua tepat dibelakang kursiku. Sedangkan aku bersama penumpang yang tidak kukenal. Didalam pesawat aku hanya mendengarkan musik sedangkan Desta dan Nera asyik membaca tabloid remaja.

Sesampainya diBali kami bertiga langsung menaruh barang-barang kami dihotel yang telah kami pesan sejak sehari sebelum keberangkatan.

“kita bertiga mau kemana dulu nih?” Desta bertanya padaku dan Nera.

“menara Eiffel!” Nera menjawab. Aku kaget dengan jawaban Nera.

“elo lagi sakit ya Ra?” aku bertanya sambil memegangi kening Nera.

“apaan si lo? Ya nggaklah, kitakan lagi diBali bukan Paris!”

“habisnya elo jawab menara Eiffel, ya jelaslah gue sama Dhedhe kaget.” Desta sewot.

“ya udah sory-sory, guekan Cuma bercanda dianggap serius.” Nera tersenyum.

“siapa yang serius?” Desta tak mau kalah.

“tadi elokan yang bilang?” Nera menjawab.

“gue gak serius tapi ada band..” Desta tertawa, Nera memajukan bibirnya.

“Ji eS Bi gitu?” aku memukul bahu Desta.

Artinya: (Jadi Situ Bangga)

“ya udah sekarang kita jalan-jalan yuk?” Deta menarik tanganku dan Nera.

Pantai dan pasir yang terhampar luas kini tepat ada didepan mataku, betapa rindunya aku dengan pemandangan ini. Dulu ketika masih duduk dibangku es-em-pe, aku Nera dan Desta pernah kemari bersama tante Dana. Tante Dana adalah adik dari papaku yang paling bungsu.

“Dhedhe, kesini cepet?” Nera melambai-lambaikan tangannya.

Aku segera mendekati Nera dan Desta yang terlihat serius memerhatikan selembar kertas yang tertempel didepan sebuah toko dekat hotel tempat kami menginap.

“ada apaan sih?” aku bertanya.

“liat nih, elo mau ikut?” Desta menawarkan.

“ikut apaan? Kitakan kesini buat liburan kok malah ikut yang kayak beginian?” aku membaca baris demi baris tulisan dikertas tersebut yang menyebutkan beberapa informasi cara menjadi model.

“siapa tau sambil liburankan sambil sedikit cari sensasi ?” desta tersenyum-senyum.

“hah… dari pada ikut kayak gituan lebih baik gue berjemur aja dipantai!” aku berkata sambil berlalu dari depan toko.

“Dhe… elo mau kemana?” Nera dan Desta memanggilku.

Aku hanya melambaikan tanganku.

Aku pergi kepantai berjalan-jalan dipinggir dan bermain dengan ombak. Suasana yang romantis ini andai saja aku bisa bersama dengan pelatih basket. Aku duduk dibawah pohon kelapa sambil menikmati sekaleng minuman favoritku. Lama aku duduk disana Tak terasa sore menjelang.

“Dhedhe.. dari tadi kita cariin taunya ada disini? Balik kehotel yuk udah sore nih?” aku hanya mengangguk dan mengikuti Desta dan Nera.

“Dhe,Ra gimana kalau besok kita shoping diDenpasar mau gak?” Desta bertanya.

“wah ide bagus tuh, kitakan disini Cuma tiga hari jadi besok harus belanja yang banyak untuk oleh-oleh.”aku menjawab sambil memeluk Desta.

Kami banyak jalan jalan dipinggir pantai setelah selesai mandi dan makan malam. Kami seperti bernostalgia dimana saat-saat liburan bersama sewaktu masih SMP. Karena besok kami ingin berbelanja dan harus bangun pagi-pagi, jadi kami bertiga memutuskan tidur lebih awal.

“PAGI…?” Desta berteriak-teriak membangunkan aku dan Nera.

“aduh Desta,sekarangkan masih pagi banget, lagi pula kitakan shopingnya jam delapan?” aku melemparkan bantal kearah Desta.

“aduh Dhedhe, sebelum kita belanja kita harus olah raga dulu untuk pemanasan supaya nanti kuat bawa belanjaan yang banyak. Lagi pula tempat shoping diDenpasar itukan lua……s banget, jadi fisik dan mental kita harus kuat dan kita akan puas seharian belanja. Ayo bangun kita olah raga dulu. Selain kuat kita jugakan bisa membakar timbunan lemak dan kita gak akan gemuk makan-makanan yang banyak disini? Ayo bangun dong jangan males ah..?” Desta mengguncang-guncang tubuhku dan Nera.

“aduh Desta pliss deh, elo tuh ganggu mimpi indah gue aja?” aku menarik selimut.

“tau nih, elo tau gak kita tuh butuh istirahat supaya kuat belanja seharian?” Nera menjawab sambil mencari selimutnya.

“aduh Dhedhe,Nera itu salah yang bener kita harus olah raga?” Desta menjadi kesal.

Dengan sangat terpaksa aku dan Nera mengikuti keinginan Desta untuk berolah raga ria dipagi hari. Aku dan Nera bingung karena tidak biasanya Desta giat berolah raga. Kami mengelilingi taman didepan hotel, memang disana banyak terlihat para wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar sedang berjoging ria. Walaupun aku sedikit kesal dengan Desta tapi ada baiknya juga aku mengikuti Desta untuk berolah raga karena sudah lama juga aku tidak berolah raga diluar. Biasanya aku hanya berolah raga didalam rumah dengan peralatan fitness yang cukup lengkap dirumah, jadi aku malas untuk berolah raga diluar rumah. Nera yang masih terlihat begitu kesal dengan Desta yang memaksanya yang sedang bermimpi indah untuk mengakhiri mimpinya dan digantikan dengan keringat karena berlari-lari.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Kami memutuskan untuk kembali kehotel dan membersihkan diri dari keringat karena pukul setengah delapan kami sudah harus berangkat menuju pusat perbelanjaan diDenpasar.

Dan setelah menyelesaikan sarapan kami segera bergegas berangkat menuju pusat perbelanjaan diDenpasar.

Kami bertiga berkeliling dibanyak toko. Memilih barang-barang yang akan dijadikan oleh-oleh untuk semua yang ada diBogor. Aku memilih pakaian untuk mang Udin serta bi Nduk dan keluarganya sedangkan kak Bima dan Radi aku membelikan jaket dan sepatu, yang harganya lumayan menguras kantongku. Ya tapi untuk orang yang aku sayang gak apa-apalah. Aku mencari pernik-pernik yang lucu hanya sekedar tanda mata untuk dijadikan hiasan rumah dan kamarku. Aku lumayan menguras tenagaku untuk membawa barang-barang yang bukan banyak lagi tetapi BUANYAK banget. Desta dan Nerapun sama mereka bahkan lebih dari belanjaanku. Mereka bilang mumpung ada diBali jadi mereka berbelanja sepuasnya, karena rata-rata barang-barang yang kami beli khas dengan kebudayaan bali. Yang tidak ada diBogor dan Jakarta. Tak terasa sudah sore dan Setelah selesai berbelanja kami makan disebuah restaurant yang menyediakan makanan khas Bali yaitu ayam betutu, favorit kami bertiga. Setelah kenyang kami bertiga kembali kehotel untuk membersihkan diri dan beristirahat.

“Dhe, Ra gue mandi duluan ya?” Desta mengambl handuk dan masuk kekamar mandi.

“kalau gue mau tiduran bentar deh, badan gue pegel-pegel nih?” Nera langsung menjatuhkan tubuhnya kekasur.

Aku hanya mengangguk dan pergi kerestaurant bawah untuk mencari cemilan. Aku membeli tiga minuman kaleng dan beberapa bungkus makanan ringan untuk malam hari. Dan setelah itu kembali kekamar.

“nih, makanan untuk malam? Gue mandi dulu ah, lengket nih.” Setelah menyimpan makanan yang baru saja kubeli aku segera mandi karena tubuhku seperti dilumuri lem yang lengket-lengket.

Lama aku didalam kamar mandi, sampai Desta dan Nera mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.

“Dhe, elo lama banget sih? Kita berdua udah laper nih, cepet dong makan yuk?” Desta mengeluh.

“iya-iya, elo berdua duluan aja nanti gue nyusul?” aku berusaha meyaknkan mereka.

“bener ya elo bakalan nyusul? Awas lo kalau gak nyusul!” Desta setengah berteriak.

“iya, tenang aja?” aku kembali meyakinkan.

“ya udah kita berdua duluan ya?” Nera dan Destapun pergi kerestaurant bawah.

Aku sebenarnya tidak ingin makan, karena aku ingin menelpon Radi. karena dua hari aku tidak bertemu dengannya. Aku mengambil telpon genggamku dan kupencet nomor handfhone Radi. Lama aku menunggu tapi Radi tak menjawab telponku. Aku menutup sambungan telpon itu, kutatap langit biru yang luas membentang seolah mereka menatapku dengan ledekkan. Aku tidak mengerti mengapa perasaanku tak pernah mengerti apa yang harus aku lakukan untuk bisa memastikan apa yang sedang Radi lakukan disana. Aku memejamkan mataku yang sudah begitu lelah dengan aktifitasku bersama Nera dan Desta dan dalam waktu yang singkat akupun terlelap.

“Dhe, Dhedhe bangun…” Nera berteriak tepat ditelingaku.

“ada apaan sih? Kalian teriak-teriak.” Aku berusaha membuka mataku.

“Dhe, ini udah jam berapa kita harus pulang kejakarta dengan penerbangan ketiga, jadi sekarang cepet elo bangun, mandi dan siap-siap?” Desta menarik selimut yng menyelinuti tubuh mungilku.

“APA…? Jadi sekarang udah pagi, jam berapa?” aku segera beranjak dari kasur dan pergi kekamar mandi.

Selesai mandi aku segera mengemas barang-barangku dan memasukkannya kedalam taksi yang akan menuju kebandara.

“semuanya udah lengkap? Kalau udah kita berangkat supaya gak ketinggalan pesawat.

Desta memberikan komando kepada aku dan Nera. Kami berdua hanya mengangguk mengikuti semua petunjuk Desta.

Come back to The Jakarta…

Jakarta pukul 15:00.wib kami tiba dibandara Jakarta. Kami segera mengambil koper dan barang-barang kami. Sebelum pulang kejakarta aku menelpon bi Nduk agar menyiapkan mobil untuk menjemputku.

“eh, tuh mobil mang Udin yuk kita pulang?” Nera dan Desta mengangguk mengikutiku berjalan menuju mobil.

Kami bertiga masuk kedalam mobil setelah memasukan barang-barang yang kami bawa. Aku mengantarkan Nera dan Desta pulang dan setelah itu aku pulang kerumah.

Sampai dirumah aku disambut oleh bi Nduk dan keluarga.

“hai.. semua?” bi Nduk dan keluarganya hanya tersenyum.

Aku meminta tolong bi Nduk membantuku membawa barang-barangku masuk kedalam rumah. Aku merasa letih sekali karena lumayan lama aku duduk didalam pesawat.

“bi.. aku mau istirahat dulu ya? Nanti kalau udah jam tujuh malam bangunkan aku untuk makan ya?” aku mengambil segelas air yang bi Nduk sediakan.

“iya non, nanti akan bibi bangunkan.” Aku mengembalikan gelas yang sudah kosong ke bi Nduk.

“ya udah aku mau tidur dulu ya?” bi Nduk mengangguk dan meninggalkan aku sendirian dikamar.

Aku merebahkan tubuhku di ranjang dan tertidur pulas.

Pukul tujuh malam aku dibangunkan bi Nduk untuk makan malam. Dan setelah makan malam aku meneruskan tidurku karena besok aku harus berangkat sekolah pagi-pagi.

Oh my god…?

Aku menatap lapangan yang sedang ada latihan basket. saat itu aku berada di lantai dua sekolah. Aku melihatnya sedang melatih basket seperti biasa. Dan tanpa sadar aku terus memperhatikannya, dan di saat itulah Ia melihatku. Aku kaget dan mencoba menghindari tatapannya dan rupanya Ia pun sama, wajahnya yang dingin seakan hilang dalam sekejap dan yang terlihat adalah wajah memerah yang di selimuti rasa malu. ‘oh my God, Mengapa ia seolah memberikan harapan padaku? Mungkinkah diapun menyukaiku? Ataukah ini hanya suatu kebetulan saja.’

“tuh kan, dia juga ada feeling tuh sama elo?” Desta tersenyum kepadaku.

“apaan sih? Gak mungkin paling Cuma kebetulan aja.” Wajahku memerah padam.

Dan dari kejadian itulah aku semakin tak tenang ketika memikirkannya. Tapi tak ada yang bisa memahami semua perasaanku, kalau aku merasakan sakit di hati karena Ia yang hanya dapatku pandangi dan tak dapatku raih untuk kebahagianku. Haruskah seperti ini selamanya? Hanya dapat memandanginya. Tidak memilikinya.

“gue gak mau egois hanya karena menginginkannya. Tapi gue harus berusaha untuk dapat berfikiran positif? agar semuanya dapat gue raih dengan cara yang benar-benar menjadi usaha gue?” Nera tersenyum mendengar semua kata-kata yang aku ucapkan.

“kalau mau berusaha, kenapa gak coba untuk PDKT?” Nera menekankan kata pdkt.

Yang membuatku aku terdiam sejenak.

“Mungkin gue gak bisa mendapatkan semua yang gue mau?” Nera tersenyum.

“hanya Tuhan yang menentukan, gue cuma bisa berharap,berdo’a dan berusaha segigih mungkin untuk dapat merebut hatinya.” Aku meneruskan kata-kataku. Nera memelukku.

“elo memang cewek yang paling baik!” Aku hanya bisa tesenyum.

My Dream…

Selasa dan kamis?

Aku semakin lelah dengan semua ini

Hatiku serasa penuh sesak oleh tangis

Terbayang selalu wajahmu yang kusuka

Yang juga kurasakan ada yang lain

Yang selalu membayangiku kemanapun

Kemanapun sepanjang kumelangkah

Mengapa kau selalu membayangiku?

Seandainya saja kau mengetahuinya?

Mengetahui isi hatiku?

Aku akan merasa amat sangat bahagia!

                                 Secret admirer…?

 

Puisi yang tertempel dimading sekolahku, adalah seluruh perasaanku yang kutuangkan dalam kata-kata yang terangkum indah menjadi sebuah puisi.

“Dhe, ini puisi siapa?” Luna menanyakan puisi itu.

“gak tahu? Memangnya kenapa?” aku berpura-pura tidak tahu siapa yang menulisnya.

“ya, gak apa-apa sih. Tapi judulnya itu loh?”  Luna menunjuk pada judul puisi itu.

“kenapa dengan judulnya?” aku bertanya balik kepada Luna.

“itukan jadwal latihan basket!” aku hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Luna.

Bayangannya selalu tampak dibenakku. “Ah… apa yang aku pikirkan? Apa dengan seperti ini pelatih basket itu akan menyukaiku?” Oh iya sejak awal cerita ini aku belum pernah mengenalkan siapa nama pelatih basket. “IBRAHIM”, nama itu menurutku sangat bagus. Karena itukan nama salah satu Nabi. Ia sering dipanggil  “bang Ibra” oleh pemain basket Es-Em-A ku. “Ya ampun lagi-lagi aku memikirkannya.”

“Dhe?” sosok itu mencoba menyadarkanku dari lamunan.

“eh..ah, apa?” aku kaget dan berusaha melupakannya.

“gak apa-apa? Cuma, kayaknya dari tadi aku liat, kamu Cuma melamun aja. Kenapa lagi ada masalah?” Radi bertanya padaku.

Betapa bodohnya aku disaat seperti ini masih sempat untuk memikirkan ‘Ibra’ akhirnya aku menyebut dengan namanya walaupun sedikit membuatku merasa sesak.

Aku menggelengkan kepalaku, menandakan jika aku baik-baik saja.

“oh iya ini aku punya oleh-oleh dari Bali untuk kamu?” aku memberikan bungkusan yang sudah kusiapkan kepada Radi.

“kamu gak perlu kasih aku apa-apa?” Radi menatapku.

“gak apa-apa kok lagi pula akukan mau kasih sesuatu untuk orang yang aku sayang.” Radi mengambil bungkusan itu dan mencium keningku.

“terima kasih ya?” aku hanya mengangguk.

“Di.. kamu gak latihan lagi?” Radi hanya menatapku tanpa mengatakan apa-apa.

Radi adalah pacarku saat ini.

Ya walaupun ia tahu aku sangat menyukai pelatih basketnya itu. Ya wajar saja kalau dia tahu, jika aku menyukai pelatih basket. Karena Radi adalah sahabatku sebelum ia menjadi pacarku. Lucu ya dari temen jadi demen, he..he..! ☺ (kayak judul sinetron aja ya…?). Radi beranjak dari duduknya.

“aku latihan dulu ya?” Radi tersenyum sebelum meninggalkanku.

Aku hanya dapat melambaikan tanganku.

Ringtone HPku tanda ada SMS masuk. Aku merogoh tasku berusaha mencari HPku. Kupencet OK. Dan muncul beberapa baris tulisan.

Woi.. Kita lagi ada di kantin nih, kesini dong?

elo lg pain sih? Ma co’ lo ya? Hehe..!:)

Send: Nera cute

Aku hanya bisa tersenyum. Aku berdiri dan ingin segera menemui kedua sahabatku. Kumasukan barang-barang yang masih belum kumasukan kedalam tas. Dan bergegas menuju kekantin.

“hai…?” aku menyapa kedua sahabatku.

“sini, ada yang mau kita kasih tau ke elo?” Nera menarik dan memaksaku duduk ditengah-tengah mereka.

Desta memberikan isyarat agar Nera berbicara lebih dulu. Nera berusaha menolak tapi Desta mengerutkan keningnya, dan akhirnya Nerapun mengalah.

“ada apa sih? Kayaknya ada yang serius deh, kenapa? ngomong dong sama gue!” aku berusaha menyela pembicaraan menggunakan isyarat yang Desta dan Nera lakukan sejak tadi. Nera menarik napas panjang sebelum memulai berbicara.

“emm.. gue mau pindah rumah dan sekolah?” Nera bicara agak ragu dan terlihat menahan tangis.

“apa? Kemana?” aku langsung menoleh kearah Nera.

“elo bohongkan?” aku tak percaya.

“gue gak bohong?” Nera meyakinkanku.

“gue mau pindah ke jakarta.” serasa ada yang menusuk dadaku, ketika aku mendengar pernyataan yang dilontarkan Nera.

Mataku terasa panas dan berair. Dan akhirnya airmatakupun membasahi kedua pipiku. Nera dan Desta memelukku, berusaha menenangkanku.

“elo jangan sedih kayak gini dong? Kita berdua jugakan jadi pingin ikut nangis?” napasku terengah-engah. Aku berbicara sambil sesegukan.

“gue.. gak mau elo.. ninggalin gue?” Nera membelai rambutku.

“gue, akan sering-sering datang kesini kok? Tenang aja yah?” Nera memberikan senyuman itu.

Senyuman yang selalu menenangkanku jika mengalami serangan panik. Hatiku luluh oleh senyumnya dan mengiyakan. Mengiyakan sahabat terbaikku meninggalkanku disaat seperti ini.

Good Bye My Best Friend…!

Packing semua barang. Nera terlihat sedikit murung.

“gue rela kok, kalau ini yang terbaik?” aku tersenyum dan memeluk Nera. Nera hanya menangis.

“eh.. udah deh jangan bikin sinetron lagi, nanti malah gak beres-beres nih?” Desta berusaha menghibur. Nera dan aku tersenyum.

“ya udah deh kita beresi dulu barang-barangnya?” aku mengelus rambut Nera.

“nanti kalau gue sudah sampai disana, gue gak akan lupa SMS atau nelpon kalian berdua?” aku hanya mengangguk. Sedangkan Desta hanya tersenyum.

Didepan rumah Nera. aku dan Desta memeluk Nera sebelum berpisah.

“hati-hati ya?” aku memberikan salam terakhirku kepada Nera.

“kalian juga hati-hati?” aku tersenyum mendengar semua perkataan Nera. Akhirnya Nera pun masuk kedalam mobil.

“Dhe… kalau udah jadian sama Ibra jangan lupa kasih kabar ya?” Nera berteriak sebelum benar-benar masuk kedalam dan akhirnya mobil itu pergi. Desta tersenyum dan mengajakku pulang.

→♥←

Hari pertama aku dan Desta tanpa Nera. Terasa ada yng hilang dari aku dan Desta.

“Dhe, gue mau minta tolong sama elo?” Dimas membuyarkan lamunanku. Aku menoleh.

“mau minta tolong apa?” aku bertanya padanya.

“hari inikan ada pertandingan basket antar kelas. Tapi Wita manager tim basket gak datang hari ini?” Dimas menjelaskan padaku.

Aku menggaruk-garuk kepalaku.

“terus apa hubungannya sama gue?” aku menunjuk wajahku sendiri.

“itu dia, maksud gue elo mau gak jadi manager tim basket? Cuma untuk hari ini aja, maukan?” Dimas membujukku.

‘ya ampun Dimas elo itu gila kali ya? Gak mjungkin banget gue nolak’ aku bicara dalam hati.

“gue sih mau aja, tapi guekan gak ngerti sama basket. Terus tugas gue apa?” aku berpura-pura bingung.

“tenang aja, elo Cuma jadi pencatat skor yang didapat dan mendampingi pelatih yang menjadi jurinya. Ya.. bisa dibilang elo itu assistant pelatih basket. Maukan?” Dimas membujukku lagi.

“Ok, gue mau! Tapi elo yang minta izin sama guru piket?” aku menyetujinya.

“beres deh, yuk sekarang kelapangan basket. Biar gue kenalin elo sama pelatih basket?” aku hanya mengangguk dan mengikuti Dimas.

“bang..? ini yang jadi pengganti Wita untuk sementara?”Dimas mengenalkanku pada pelatih basket. Kak Ibra tersenyum. Aku mengulurkan tanganku.

“Dhedhe?” aku memperkenalkan diriku.

“Ibra!” dia menjawab sambil tersenyum.

     “ya tuhan seperti bermimpi aku bisa duduk berdampingan dengan orang yang sejak lama kusukai bahkan kucintai.”

Aku lumayan banyak bicara dan bertanya tentang permainan basket. Sebelum akhirnya pertandingan selesai.

“kak ini hasil pertandingan hari ini?” aku menyerahkan catatan skor pertandingan.

“oh.. iya thank’s ya?” ia tersenyum. Aku hanya mengangguk dan pergi kekelas.

“wuah.. senengnya yang udah bisa ngobrol sama pujaannya.” Desta meledekku.

“apaan sih elo? Jail deh sama gue?” aku membela diri.

“tapi senengkan?” Desta tersenyum.

“iya sih?” jawabku malu-malu.

“ya udah, pulang yuk gue udah laper nih?” aku hanya mengangguk.

Aku semakin tak tenang jika memikirkannya. Dan masih tak percaya bisa bicara sedekat itu dengannya.

→♥←

Tak terasa sudah seminggu aku dan Desta berkumpul tanpa Nera.

“tuh, nenek sihir sekarang lagi apa ya?” Desta berbicara sambil membolak-balik majalah remaja.

“nenek sihir! Jadi kita temennya nenek sihir gitu?” aku memukul pelan lengan Desta. Ia tertawa, dan seketika berhenti dan memandangi majalah yang ia baca dengan rasa penasaran.

“ada apa sih?” aku menjadi ikut melihat majalah itu.

Desta menunjukkan gambar seorang cewek, “cantik banget”, batinku bicara.

“kenapa?” aku masih tak mengerti.

“lo ngerasa gak? Kalau kayak kenal nih cewek deh?” Desta menunjuk seorang model yang ad dimajalah itu.

“masak sih? Perasaan kita gak pernah deh punya temen seleb?” aku tertawa.

“Nera Agustiana.” Desta membaca profil cewek itu.

“apa?” aku dan Desta berkata serempak.

“gak mungkin? Coba sini gue baca lagi namanya?” aku menarik majalah itu.

“hai Des, Dhe. Hebat ya Nera bisa jadi seleb, selamat ya untuk Nera?” aku menoleh kearah Luna yang sudah berlalu dari hadapanku dan Desta.

Aku menjadi semakin tak percaya, aku menegaskan lagi nama yang tertulis didalam profilnya.

“Nera Agustiana.” “ya ampun…? Ternyata benar itu Nera.”

“benerkan? Itu Nera?” Desta meyakinkan. Aku mengangguk, dan mataku serasa panas, dan akhirnya meluncur tetes demi tetes air mataku.

Desta memelukku.

“kenapa, Nera ngerahasiain semua ini dari kita?” kata-kata itu keluar karena kekecewaanku pada Nera.

“sudahlah, mungkin dia sibuk banget kali?” Desta berusaha menenangkanku.

“sesibuk apa sampai dia gak sempat nelpon dan kasih kabar kekita, apa kita berdua udah gak dianggap sahabat lagi sama Nera?” bicaraku meninggi.

Memang sejak Nera pindah kejakarta baru dua kali Nera menelpon Dhedhe dan Desta.

“ya udah gimana kalau sekarang kita telpon dia, mau gak?” belum kujawab, Desta sudah menarikku pergi kewartel yang letaknya dekat sekolahku.

Lama.. aku dan desta menunggu telpon diangkat.

“halo?” seseorang menjawab.

“halo, bisa bicara dengan Nera?” Desta bertanya.

“ini dari siapa ya?” suara itu bertanya lagi.

“ini dari Desta, Neranya ada mbak?” Desta menanyakannya lagi.

“sebentar ya? Saya panggil dulu.” Satu menit,dua menit.

Aku dan Desta menunggu.

“ada?” aku menanyakan pada Desta.

“lagi dipanggil!” Desta menjawab.

Sepuluh menit aku dan Desta menunggu, tapi tak kunjung dijawab oleh Nera. Aku menarik gagang telpon yang dipegang Desta dan menutupnya.

“kenapa?” Desta bertanya padaku.

“percuma kalau mungkin sekarang kita ini udah dilupain.” Aku menarik tangan Desta mengajaknya keluar setelah membayar.

Pulang…

Aku berusaha menepis prasangka-prasangka burukku tentang Nera.

“sial…!” aku berteriak dari dalam kamar. Membuat bi Nduk kaget.

“aya naon non?” bi Nduk bertanya menggunakan bahasa planetnya lagi.

“ora opo-opo toh Bi!” aku menjawab asal, memakai bahasa daerah kelahiran papa.

Aku menjadi teringat papa, papa sudah meninggal tiga tahun yang lalu karena penyakit jantung. Dari luar kamar, bi Nduk hanya menggaruk-garuk kepala tak mengerti. Aku mendengar suara mobil masuk kehalaman rumah. Aku melihat dari jendela kamarku.

“kak Bima…?” aku tak percaya siapa yang datang. Aku segera berlari keluar, tadinya Bibi hendak membuka pintu tetapi tidak jadi, karena aku berteriak lebih dulu.

“bibi…?” Bi Nduk kaget dan segera menoleh kepadaku.

“aya naon si non teh? Bikin Si bibi kaget aja,” bibi menggeleng-geleng.

“maaf ya bibi sayang? Habis akukan mau bukain pintu buat Kak Bima.” Aku memeluk bibi.

Si bibi hanya mengangguk-angguk.

“ya udah, sekarang bibi ambilin kak Bima minum terus taro aja di meja ruang tamu?” si bibi mengangguk lagi, dan pergi kedapur.

Aku keluar rumah sambil berteriak-teriak, kak Bima kaget sampai mengelus-ngelus dadanya.

“kak Bima…? Aku kangen sama kakak?” aku memeluk kak Bima.

Kak Bima menjitak kepalaku. Aku cuma nyengir. Seorang cewek keluar dari pintu sebelah. Cewek itu tersenyum. “Kayaknya gue kenal deh?” Batinku bicara.

“oh iya, kenalin ini Nera? Pacar aku yang baru. Pasti kamu udah tahukan? Soalnya diakan seleb.” kak Bima mengenalkannya padaku.

Aku kaget dan segera menarik kak Bima.

“ada apa sih?” bisik kak Bima.

“itukan Nera sahabatku, kakak kenal dimana?” aku berusaha meminta penjelasan darinya.

“aku gak tahu?” kak Bima mengangkat bahunya.

“udah deh gak enakkan ninggalin tamu? Nanti aja penjelasannya?” kak Bima berusaha meyakinkanku.

Aku menurut dan masuk kedalam rumah.

“bi.. minumnya satu lagi, buat pacarnya kak Bima?” teriakku pada bi Nduk dari ruang tamu.

Aku memandanginya. Ia hanya tersenyum padaku. Aku tak mengerti, kenapa ia tak mengenaliku?.

“Dhe..” kak bima memanggilku.

“apa?” jawabku ketus.

Kak Bima mendekatiku dan memelukku.

“kamu harus tahu?” kak bima berusaha menjelaskannya padaku.

“tau apa?” jawabku lagi.

“Nera itu AM…?” kalimat kak Bima menggantung.

“am, apa?” aku menjadi semakin penasaran.

Nera mendekat dan duduk disampingku.

“kamu cantik deh?” ia tersenyum.

Dan senyuman itu…? Senyuman Nera yang hangat dan masih sama sebelum ia pergi kejakarta.

Aku mencoba menahan tangisku. Dan menatap kak Bima meminta penjelasan. Kak Bima menghela napas panjang.

“Nera AMNESIA.” Jawabnya sedikit berbisik kepadaku dengan nada lirih.

Akhirnya tangiskupun meledak. Aku berlari kekamar meninggalkan Nera dan Kak Bima. Kubanting tubuhku keatas kasur. Kuraih HPku dan segera menghubungi Desta.

“halo?” Desta menjawab.

“Desta…?” aku berteriak kepada Desta.

“ada apaan sih elo Dhe?” aku diam sejenak.

“halo…? Elo masih disitukan Dhe?” Desta bertanya.

“lebih baik sekarang elo kesini aja? Nanti baru gue jelasin?” aku menegaskan perkataanku kepada Desta.

“ya udah lima belas menit lagi gue kerumah elo?” Desta meyakinkanku.

“ya, bye…” aku mengakhiri telponku.

Shock berat…???

Suara bel pintu. Aku segera keluar dari kamar, kulihat Kak Bima sedang berada diteras belakang bersama Nera. Aku segera membuka pintu.

“hai..?” Desta menyapaku. Aku hanya tersenyum.

Desta bingung melihat wajahku yang semrawut sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“elo kenapa? Habis nangis ya, Ibra gak ngelatih hari ini?” ledek Desta.

“yuk masuk? Nanti juga elo tahu.” Aku menarik tangan Desta, menyuruhnya masuk.

Aku membawa Desta keteras belakang.

“kak Bima?” aku memanggilnya. Kak Bima dan Nera menoleh.

“ya ampun, Nera?” Desta berteriak, dan langsung memeluk Nera.

Nera yang bingung, karena tiba-tiba Desta memeluknya.

“elo kemana aja? Gue sama Dhedhe kangen banget sama elo?” Nera mengerutkan keningnya, Ia terlihat bingung dengan apa yang Desta tanyakan.

Aku menarik Desta.

“kenapa?” Tanya Desta.

“Nera itu, gak kenal kita.” Aku berbisik kepada Desta.

“apa…?” Desta tidak percaya.

“Dhe, lebih baik kamu ajak Desta kekamarmu dan menjelaskannya disana?” kak Bima memberikan sarannya.

Aku setuju dan segera mengajak Desta kekamar.

“sebenernya, apa sih yang terjadi?” Desta memandang keluar jendela.

“tadinya gue juga bingung, tapi sekarang gue tahu.” Aku mengusap bahu Desta.

Ia memandangku meminta jawaban.

“Nera mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatannya.” Aku mencoba memberikan penjelasan kepada Desta.

“kapan? Kenapa tante gak kasih kabar kekita?” aku menunduk.

“kenapa?” Desta mulai menangis.

“tante udah meninggal.” Jawabku lirih.

Desta menjatuhkan dirinya kelantai.

Kamarku menjadi sepi seolah tak ada satupun manusia didalamnya. Desta hanya diam membisu akupun tak tahu apa yang harus aku lakukan. Mengapa ini semua terjadi? Aku hanya bisa duduk diam memandangi Desta yang merasa terpukul atas apa yang terjadi saat ini pada Nera. Dua jam kami didalam kamar tanpa berbicara.

“kita berdua harus Bantu Nera, untuk mengingat kembali siapa dirinya?” Desta bangkit dan menggenggam tanganku.

Aku hanya mengangguk.

Sudah satu minggu ini, sepulang sekolah Desta selalu kerumahku. Ini semua aku dan Desta lakukan untuk mengembalikan ingatan Nera.

“Dhe…?” kak Bima memanggilku dari ruang makan. Yupzz… sudah jam makan siang, jadi kak Bima mengingatkanku untuk makan.

“ya udah kita makan aja dulu yuk?” aku mengajak dan segera menarik tangan Desta, untuk makan siang. Suasana hening menyelimuti acara makan siang hari ini.

“kak, kapan balik lagi kejakarta?” aku berusaha menetralkan suasana.

“ya kira-kira dua minggu lagi. Emangnya kenapa?” kak Bima menjawab sambil menyuap makanannya.

“gak apa-apa sih, Cuma kalau kakak pergi pasti aku sendirian lagi dirumah?” aku memainkan sendok dan garpu makanku.

“kan ada Bi Nduk?” kak Bima bertanya.

“iya.. tapikan gak ada yang bisa diajak main gitar lagi?”aku menjawab sambil memajukan bibirku.

“memangnya kamu sekolah dimana?” tiba-tiba Nera bertanya padaku.

“eh..ah.. anu?” Aku menoleh kearah Desta. Ia hanya tersenyum.

“gimana, kalau besok kamu sama kak Bima kesekolah aku?” aku mencoba menawarkan pada Nera.

“Ok… aku mau lihat. Bolehkan yank?” ia berkata manja pada kak Bima. Kak Bima hanya mengangguk.

Puisi siapa nih…?

Aku bingung, ketika melihat sebuah kertas yang tidak kukenal, berada di meja belajarku. Kuambil dan membukanya.

Sebuah misteri yang akan kau tahu?

Membelai relung hatimu

Sampai kapan?

Kau cobalah mengenalku?

Yang setia menanti hadirmu

Dikala malam membelai sukma

Perlahan menghampiri

Apa yang kau rasakan?

Cobalah mengerti?

Batinku perih menahan semua rasa ini

Betapapun kau tak perduli?

Aku percaya kau masih?

Masih mempunyai sedikit ruang untukku

Walaupun hanya sedikit

Aku tetap mengharapkanmu?

 

To: Dhe-Dhe…

Yang selalu mengharapkanmu…?!?

 

‘Sejak kapan puisi ini masuk kekamarku?’ batinku berbicara. Aku tak mengerti apa maksud puisi itu yang ditujukan untukku.

Pikiranku melayang, sejenak kuteringat pada Radi. “ya… Radi?” aku segera keluar kamar dan menuju ruang tengah. Kupencet nomor yang sudah kuhapal.

Lama kutunggu.

“halo?” seseorang menjawab.

“halo… selamat sore, bisa bicara dengan Radi?” aku mencoba menanyakan Radi pada orang yang mengangkat telpon.

“dari siapa ya?” Ia bertanya lagi.

“oh.. maaf kalau boleh tahu saya bicara dengan siapa ya?” aku balik bertanya kepadanya.

“oh… aku Miery, tunangannya Radi. Ini siapa ya?.” zlegerrr… serasa tersambar petir disore hari.

Akupun terdiam.

“halo..? halo..?” dan telponpun terputus.

Tubuhku serasa remuk seketika dan Aku terjerembab kelantai. Tangiskupun meledak tak dapat kutahan.

“argh…?” aku berteriak karena merasakan sesak didadaku.

Kak Bima dan Nera berlari menemuiku.

“ada apa Dhe? Kenapa kamu menangis?” kak Bima terlihat bingung melihatku.

Dan disaat itulah Nera memelukku.

“menangislah sepuasmu? Keluarkan semuanya!” Nera memberikanku sedikit keteduhan.

Kak Bima membelai kepalaku.

“tenangkan diri kamu dulu Dhe? Kalau kamu sudah tenang, baru kamu ceritakan pada kami?” aku menangis selama satu jam, dipelukan Nera. Sehingga bahu t-shirt Nera basah oleh air mataku.

“kamu sudah merasa baikan?” kak Bima bertanya padaku.

Aku mengangguk.

“maaf pakaianmu jadi basah?” aku meminta maaf kepada Nera.

Ia hanya tersenyum dan membelai kepalaku. Aku menceritakan semuanya kepada kak Bima, tentang Radi. Nera berdiri bermaksud mengambilkan air untukku. Tiba-tiba terdengar suara barang-barang didapur terjatuh. aku dan kak Bima kaget dan segera berlari kedapur. Barang-barang yang ada dilemari berserakan dilantai dan kulihat Nera sedang memegangi kepalanya yang sedikit terluka dan mengeluarkan darah.

“ada apa?kepalamu ada yang terluka?” kak Bima menjadi panik.

“aku seperti mengingat sesuatu?” Nera mencoba menjelaskan.

“apa?” kak Bima bertanya lagi.

“aku mengingat kehidupanku.” Aku kaget, dan segera mendekatinya.

“kamu mengingat apa?” aku mencoba membantu mengembalikan ingatannya.

“ya… aku sudah ingat semuanya?” Nera menangis.

Aku terdiam.

“kamu Dhedhe sahabatkukan?” ia bertanya padaku.

Aku kaget dan segera memeluknya.

“akhirnya.. kamu sudah kembali mengingatnya?” aku menangis dan memandangi kak Bima.

Kak Bima hanya tersenyum.

Come back…

“apa…?” Desta berteriak saat kukatakan semua tentang Nera.

“iya bener, makanya sekarang elo kesini?” aku memberitahukan Desta sambil berteriak-teriak.

“ya udah, lima belas menit lagi gue kerumah elo?” Desta segera memutuskan telponnya.

“gimana? Desta mau datang kesini?” kak Bima bertanya padaku.

Aku mengangguk.

“Dhe…? Gue mau minta maaf kalau kak Bima sekarang jadi cowok gue!” Nera menundukan kepalanya.

“ih.. elo itu kenapa sih? Gue tuh malah seneng kalau elo yang jadi ceweknya kak Bima. Dari pada cewek yang pernah datang lima bulan yang lalu, gak jelas,cerewet,sok cantik and sombong banget deh pokoknya.” Aku melirik kearah kak Bima.

Kak Bima cuma nyengir.

“kamu, bisa aja?” kak Bima berusaha membela diri.

Suara bel pintu. Bi Nduk membukakan pintu.

“malam?” Desta menyapa kami semua. Nera segera memeluk Desta.

“Des, gue kangen banget sama elo?” Nera mulai menangis.

“udah-udah, elo apa-apaan sih Ra?” Desta berusaha menenangkan Nera.

“Ra, duduk kasian tuh Destanya kalau berdiri terus?” kak Bima menyuruh Nera dan Desta duduk.

Kami semua bercerita dan melepas rindu, sampai datang pagi hari.

   “Sekolah? ah… gue be-te banget. Apalagi kalau harus ketemu sama Radi.”

“Des, gue gak sekolah aja deh?” aku memohon pada Desta yang sedang memakai seragam.

“jangan Cuma gara-gara si Radi elo gak masuk? Berarti elo itu lemah?” Desta berbicara ketus, membuatku berfikir lagi.

“Ok.. gue sekolah! Nanti disekolah gue langsung minta putus sama dia?” aku berkata gemas sambil merema-remas bantal kecil Tazmaniaku.

“eh.. itukan bantal kesayangan elo?” Desta menyadarkanku, yang sedari tadi meremas-remas bantal kesayanganku.

“aduh.. rusak deh?” aku memeluk bantalku.

Desta tertawa.

“makanya, kalau marah sama Radi, ya Radi yang diremas-remas bukan bantal?” Desta berjalan keluar.

“eh.. tunggu?” aku menyusul Desta keluar.

Nera terlihat sedang menata meja makan.

“pagi…?” serentak aku dan Desta berkata bersamaan.

Nera tertawa.

“ternyata semakin hari kalian semakin kompak aja ya?” Nera meledek kami berdua.

“ah.. elo bisa aja?” Desta menjawab sambil duduk di meja makan.

“kak Bima mana Ra?” aku bertanya sambil mengambil roti dan mengolesinya dengan selai coklat kesukaanku.

“kayaknya sih lagi mandi?” bibirku membentuk huruf ‘O’ pertanda mengerti.

Selesai sarapan.

“Ra, bilang sama kak Bima gue sama Desta berangkat duluan naik taksi?” Nera hanya mengangguk.

Aku dan Desta bercipika-cipiki ria dengan Nera, dan bergegas berangkat sekolah.

Putusss…!!!

Upacara di hari senin kali ini, pak Rokhmat guru tata negara yang menjadi Pembina upacara. Ia bicara panjang lebar tentang semua kejadian yang menimpa negeri ini dari mulai bencana alam sampai kasus korupsi  yang tak kunjung mereda. ‘aku bisa tahu semua karena aku adalah pendengar setia pak Rokhmat’ he..he..! (bohong deng) mana ada yang mau lama-lama mendengar ceramah sambil berdiri,, sambil duduk aja kadang ngebuat be-te. Semua siswa berbisik-bisik mengomentari pak Rokhmat. Ada pula yang sedang bergosip, ya tentang kakak kelas yang gantenglah dan paling galak. Aku dan Desta hanya menunduk lemas.

Akhirnya upacara selesai. Semua murid berhamburan dari lapangan menuju kekelas masing-masing. Ya memang gak semuanya kekelas, ada juga yang kebelet sejak ceramah tadi, ada pula yang menyelinap pergi kekantin, dan ngecengin adik-adik kelas. Eits… tidak Termasuk aku dan Desta, kami berdua langsung masuk kekelas. kami berduakan murid teladan (terlambat kalau datang) he..he… gak nyambung n garing yeee!?!

“woi..? hari eni-ni bu Twety kagak masuk.” Somat berteriak-teriak ala logat betawinya.

‘siapa bu Twety, n kenapa dipanggil bu Twety?’ bu Twety itu guru kesenian yang gaya bicaranya mirip tokoh kartun burung kecil, yang namanya Twety. He..he..! jail ya mereka semua? Bu Twety juga selalu menyuruh mereka menyanyikan lagu-lagu daerah sebelum pelajaran dumulai, katanya sih biar semua muridnya cinta tanah air. eits.. ada lagi dia itu orangnya agak aneh, Kenapa? Soalnya kalau setiap belajar gak ada yang boleh bicara, walaupun cuma pinjem penghapus or penggaris. Wuah… kalau dia udah marah? satu kelas bisa-bisa dijemur ditengah lapangan. Semua temen-temen  sekelas berteriak kegirangan.

Aku menoleh kearah meja Adi. Kulihat ia sedang sibuk dengan buku-bukunya. ‘woi… siapa lagi tuh Adi?. oh… mau tau yeee… Hehehe..! kok ngikutin Somat ya. Mau tau gak..? he..he..! sory-sory. Ok Adi itu murid paling pintar dan juga lumayan ganteng bo’…! Dulu aku pernah menyukainya. Tapi sekarang Cuma ka Ibra seorang yang ada dihati? Hehehe.. puitis banget ya.” Aku menyenggol sedikit tangan Desta yang dari tadi sibuk nulis-nulis gak jelas dibukunya.

“apa?” jawabnya tanpa menoleh kepadaku.

“kalau hari ini gue nembak Adi gimana?” aku berbisik pada Desta.

“what…?” tiba-tiba Desta berteriak dan membuat seisi kelas menoleh. Aku Cuma senyum-senyum.

“eh.. sory-sory? Gue kaget. Udah lanjutin aja kegiatannya?” wajah Desta memerah, karena malu. Desta mencubit lenganku.

“auw.. sory-sory? Guekan Cuma becanda. Lagian elo sih gak mau ngedengerin gue?” aku mencoba membela diri.

“Ok, sekarang emangnya elo mau ngomong apa?” jawab Desta tapi sekarang sambil memandangiku.

“besokan kak Ibra ngelatih.” Aku menjelaskan.

“terus..?” Desta tak mengerti.

“gue mau kasih ini kedia?” aku menunjukan selembar kertas yang berisi sebuah puisi.

Selasa dan kamis

 

Saat yang paling kutunggu…

Hari esok adalah selasa dan kamis…

Mengapa…? aku tak mengerti…

Saat kusadari dan ku bisa mengerti…

Aku menyukaimu sejak pertama…

Sejak pertama kali melihatmu…

 

Disana dan dihari itu…

Dilapangan dan dihari selasa dan kamis…

Wajahmu membuatku teduh…

 

Wlaupun kau belum dan mungkin tak akan…?

Tak akan menjadi milikku…

Tetapi kau tak akan terganti…

Dalam hatiku tak akan terganti yang lain…?

 

“puitis banget lo? Mirip penyair.” Desta menggodaku.

Aku memajukan bibirku.

“eh.. tapi denger-denger si Tania juga suka lo, sama pujaan elo itu?” Desta berbisik kepadaku.

“katanya sih begitu, tapi bukan Cuma kak Ibra yang disukain sama dia Adi juga dia suka?” aku menambahkan.

“masa’…?” Desta kaget.

“ah.. udah deh? Gak usah ngomongin orang. Sekarang yang pasti gimana puisi gue bagus gak?” aku bertanya pada Desta.

Desta mengangguk-angguk.

“tapi siapa yang mau kasih ke Kak Ibra?” Desta bertanya balik kepadaku.

“ya ampun…? Elo itu pura-pura bego atau emang bego beneran sih?” aku memukul keningku.

“enak aja elo? Guekan nanya!” Desta memajukan bibirnya.

“ya kemana lagi kalau bukan dimading?”

“apa…? Dimading, elo gak salah?” Desta semakin bingung.

“kenapa? Ada yang salah sama rencana gue?” aku menggaruk-garuk kepalaku.

Eitz.. gak ada kutunya lo apalagi ketombe.

“sekarang gantian elo yang bego ya? Emangnya kak Ibra suka baca mading gitu? Yang kemarin aja gak di baca sama dia.” Desta tertawa.

“terus mau dikasih kemana dong?” aku menjadi bingung sendiri.

“ya terserah elo deh, gue sih Cuma kasih saran langsung kasih ke orangnya. Tapi up to you deh.?” Desta mengangkat bahunya.

“ya udah, elo pikirin aja baiknya gimana? Gue sekarang keperpus dulu ya?” Desta membelai bahuku. Aku termenung sendirian.

“woi…?” Somat membuyarkan lamunanku.

“apa-apaan sih lo Mat?” aku bersungut.

“ye.. maapin gue ye? Abisnye elu bengong aje dari tadi gue liatin. Kenape?” Somat mencolek daguku dan duduk disampingku.

“ih… elo kurang ajar banget sih, kayaknya elo harus gue bina ya?” aku semakin kesal.

“bina? Bina apa?” somat menggaruk-garuk kepalanya.

“DIBINASAKAN! ah.. udah deh, sana-sana? Gue lagi cari inspirasi jadi jangan diganggu.” Aku menyuruh Somat pergi.

Somat Cuma nyengir kuda. Ya emang aku akui Somat emang mirip kuda. He..he..:)

“eyalah gak ngudeng ya dibilanginnya?” aku semakin kesal.

Brak… suara meja kupukul.

“elo mau pergi atau gue tinju?” aku mengepal-ngepalkan tanganku dan bersiap meninju Somat.

Somat lari kucar-kacir sebelum kutinju.

→♥←

Semuanya jadi kacau karena Somat. Aku keluar kelas untuk mencari ketenangan. Kududuk dibawah pohon besar disamping lapangan basket. Disini tempatku biasa memandangi kak Ibra, jika sedang melatih basket. Awalnya aku hanya mengaguminya, tetapi akhirnya rasa kagum itu berubah menjadi rasa… ya mungkin bisa dibilang rasa CINTA. Karena hampir setiap menit bahkan setiap detik aku selalu memikirkannya. (setiap detik, apa gak capek tuh?→☺Tari).

Di pojok lapangan aku melihat sebuah bola basket. ‘aku mau coba main basket deh?’ kataku dalam hati. aku mengambil bola dan mencoba memasukannya kedalam ring.

“ah.. kok gak masuk sih?” aku mengambilnya lagi.

Kulemparkan lagi-lagi tak berhasil. Berulang kali ku coba memasukannya tapi tak ada satupun yang masuk. “Duk..duk..!” suara bola didribel. Aku mencari arah suara itu. Yupz.. tepat dibelakangku. “kak Ibra…?” aku tak percaya. Aku segera pergi sedikit menjauh dari lapangan.

“Druk…” tepat masuk kedalam ring.

Spontan aku bertepuk tangan. Ia menoleh dan tersenyum. Aku berhenti karena malu.

“makanya, kalau mau main harus ada yang latih?” ia masih tersenyum padaku.

 “Ya Tuhan… bagaikan hujan disiang hari. Hatiku menjadi berbunga-bunga.”

“maaf? Aku Cuma iseng aja kok. Permisi?” Aku berniat meninggalkan lapangan itu, Tapi kak Ibra memanggilku.

“tunggu?” aku menoleh.

“apa?” aku semakin menjadi gugup.

“kamu mau aku ajari main basket?” ia bertanya padaku.

“Ya Tuhan apa lagi ini? Mimpikah semua ini, atau sungguhan?”. Aku hanya tersenyum. tubuhku menjadi gemetar.

“gimana kalau ngobrolnya sambil duduk?” ia menawariku.

“Ya ampun aku gak akan nolak” batinku bicara.

“hei.. kenapa?” ia menyadarkanku yang sedari tadi senyum-senyum sendiri.

“eh..ah.. gak! gak apa-apa?” ia berjalan dan duduk dibangku dipinggir lapangan.

“kalau gak salah kamu yang gantiin Wita yang waktu itu sakitkan? kamu kelas berapa?” Ia memandangiku.

Membuatku malu setengah mati, setengahnya lagi hidup. Hehehe…!

“iya betul. aku kelas dua!” aku menjawab.

“oh.. kamu kelas dua! Ambil jurusan apa?” Ia bertanya lagi.

“IPA!” jawabku singkat.

“IPA? apa gak pusing masuk jurusan ipa?” ia memain-mainkan bola basket yang sedari tadi dipeganginya.

“tadinya sih, kayak salah jalan? Tapi akhirnya asyik juga!” ia tertawa.

Obrolan kami berlanjut cukup lama, sebelum Radi  datang.

“Dhedhe…?” Radi memanggilku sambil melambaikan tangannya.

     “aduh.. kenapa disaat begini dia dating” aku hanya terdiam.

“aku cari-cari kamu ternyata ada disini?” ia menoleh ke kak Ibra.

“bang.. sekarang latihan?” ia bertanya pada kak Ibra.

“setengah jam lagi!” kak Ibra menjawab sambil beranjak pergi.

“Dhe, aku kekantin dulu ya?” aku hanya mengangguk.

“mau apa kamu kesini?” aku berdiri dan berniat pergi.

Radi menarik tanganku.

“tunggu? Aku mau jelasin soal yang kemarin!” ia berusaha menahanku.

“apa…? Apa yang mau kamu jelasin? Kamu tuh udah nyakitin aku?” tangisku meledak.

Aku memberontak untuk melepaskan diri.

“kamu harus tahu, dan denger penjelasan aku dulu?” ia berusaha untuk tetap menahanku.

“gak ada yang harus kamu jelasin lagi ke aku, semuanya udah jelas! Kamu mau bilang kalau kamu balikan sama Miery dan udah tunangan Dan sekarang kamu mau mutusin aku? Tanpa kamu mutusin akupun, aku udah gak menganggap kamu pacar aku lagi. mulai saat ini kita PUTUS.” Aku berteriak dan mendorongnya tapi radi menarik tanganku lagi sehingga aku tidak dapat pergi.

“denger…, aku gak balikan apa lagi tunangan sama Miery. Itu Cuma cara dia aja agar kita putus, kamu harus percaya sama aku? Aku gak pernah mencintai orang lain selain kamu, tolong percaya sama aku?” Radi menatapku penuh harap.

“kamu tau Di? Aku juga sayang banget sama kamu, tapi aku udah gak bisa percaya lagi sama kamu. Kamu udah buat hidup aku berantakan selama ini aku coba untuk mengerti kamu,sifat kamu,kelakuan kamu tapi sekarang aku udah gak sanggup bertahan sama kamu, aku udah lelah menahan semua beban yang aku rasain? Jadi mulai sekarang aku bukan lagi pacar kamu dan jangan lagi mengharapkan aku?” aku berlari sambil menangis meninggalkan Radi.

“what heaven?” Desta bingung melihat wajahku yang berantakan tak karuan.

Aku diam dan duduk.

“are you Ok? ngomong dong sama gue?” Desta bertanya lagi.

Aku memeluk Desta dan menangis.

“gue gak nyangka, kalau bakal jadi kayak gini! Apa salah gue sama dia?” aku bicara sambil tersedu-sedu.

“dia siapa? Gue masih gak ngerti?” Desta membelai kepalaku.

“Radi.. dia udah gue putusin. Tapi gue masih sayang sama dia? Gue hancur banget?” aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.

“so, Cuma gara-gara Radi elo kayak gini?” Desta melepaskan pelukanku dan menatapku tajam.

“kenapa?” aku mengusap air mataku.

“elo bilang kenapa? Ya ampun! Denger ya, tanpa diapun elo masih bisa hidup. Dan satu lagi sekarang kak Ibra udah deket sama elo, terus apa lagi? Jadi sekarang buat apa elo nangis? Sia-sia aja. Dia gak akan perduli, ya… walaupun dia perduli paling Cuma sandiwara, gak sungguhan!” Desta terlihat begitu marah.

“gue gak ngerti?” aku masih merasa sedih.

“ya.. gimana elo mau ngerti? Toh, elonya masih nangis! yang gue rasa.. gak perlu? Jadi sekarang lebih baik elo belajar dari pengalaman?” Desta terlihat begitu dewasa. Aku tersenyum dan memeluknya.

“thank’s elo itu sahabat yang paling ngertiin gue?” aku merasa lebih tegar.

“ya udah sekarang kita pulang dan kerumah elo?” Desta menarik tanganku.

Aku menurut.

Mama pulang…?

Dirumah aku dan Desta duduk diteras belakang. Sambil menikmati orange juice kesukaan aku,Desta,dan Nera.

“kalian gak main dulu?” Nera tiba-tiba datang dan duduk bersama aku dan Desta.

“tadinya sih kita mau main dan ngajak elo, but keadaan lagi gak mendukung.” Desta berdiri memandangi kolam renang.

“gak mendukung gimana?” Nera tampak bingung.

“Tanya aja tuh, sama orangnya.” Desta berbicara tanpa menoleh, dan duduk dipinggir kolam. Nera  menatapku.

“emangnya ada apa sih? Kasih tau gue dong…?” Nera mengguncang-guncang tubuhku.

Aku membalas tatapannya. Nera kaget.

“ada apa sama elo? Kenapa wajah elo kayak gini?” Nera menyentuh wajahku.

“gue baru aja putus sama Radi. Dan gara-gara dia gue nangis dan ngebuat wajah gue kayak gini?” aku menjawab sambil meremas-remas gelang yang Radi berikan padaku sewaktu kami baru jadian.

“tapi sekarang elo udah gak apa-apakan?” Nera membelai rambutku.

Aku hanya mengangguk dan membuang gelang itu ketempat sampah.

Suara klakson mobil kak Bima memasuki garasi rumah.

“kak Bima udah pulang, aku mau ambil minum dulu ya?” Nera berdiri dan pergi meninggalkan aku Dan Desta.

“Des…?” aku memanggil Desta. Desta menoleh.

“ada apa?” Desta duduk dan meminum orange juicenya.

Belum aku bicara, Nera memanggil.

“ada apa?” aku menjawab panggilan Nera.

“ada tante sudah pulang?” Nera menjelaskan.

“buat apa dia pulang?” nada bicaraku menjadi kasar.

“udah sana elo temuin dulu?” Desta berusaha membujukku.

Aku pergi keruang tamu. dan disana kulihat mama sedang berbicara dengan kak Bima.

“sayang, sini ada yang mau mama bicarain sama kamu?” mama menyuruhku duduk disampingnya.

Aku tidak duduk disampingnya melainkan disamping kak Bima.

“ada apa sih kak?” aku berusaha mencari kejelasan.

“biar mama aja yang menjelaskan?” kak Bima menunduk.

Aku jadi mempunyai firasat yang kurang mengenakan.

“sayang.. mama mau bawa kamu kebandung ikut mama!” mama mendekatiku sambil membelai bahuku.

Aku kaget, dan aku langsung mendorong mama agar menjauh.

“apa…? Mama udah gak waras ya? mama Gak pernah mikir apa, enak aja mau bawa aku. Emangnya mama siapa seenak hati mama mau misahin aku sama kak Bima?” nada bicaraku meninggi bahkan membentak.

Kak Bima berusaha menenangkanku.

Nera dan Desta datang dan segera memelukku.

“Bima.. tolong kamu jelasin sama adik kamu, kalau mama melakukan ini demi kebaikannya?” kak Bima hanya terdiam.

“eh…?” aku membentak dan melepaskan diri dari Nera dan Desta.

“denger ya… aku bukan anak kecil lagi. Dan aku gak pernah punya mama? Apalagi seorang mama Yang tega menelantarkan anaknya selama tujuh belas tahun. Selama itu aku,kak Bima sama papa menderita, tapi mama…? Mama malah seneng-seneng sama laki-laki lain. PELACUR…!” aku berteriak.

“Plak…” mama menampar wajahku.

Kak Bima mendorong mama dan memelukku.

“cukup…? Aku sudah lama diam, tapi kali ini sudah kelewat batas. Dan lebih baik sekarang mama pergi, tinggalin kami dan jangan pernah datang kesini lagi?” kak Bima membelaku.

“tapi Bim?” mama berusaha memohon.

“pergi sebelum kesabaranku habis?” kak Bima menjadi semakin emosi.   Mama menangis dan pergi.

“udah sekarang sebaiknya kalian bawa Dhedhe kekamar, untuk menenangkannya?” Desta segera membawaku kekamar.

“kamu gak apa-apakan yank?” Nera mencoba menenangkan kak Bima.

“aku gak apa-apa kok, kamu gak usah khawatir?” kak Bima memeluk Nera.

Lima hari setelah setelah kejadian itu, hari ini adalah hari minggu Desta datang sambil membawa majalah.

“Dhe, Ner ada yang mau gue tunjukin kekalian semua?” Desta berteriak-teriak didepan rumah.

Aku dan Nera berlari karena mendengar Desta berteriak-teriak.

“ada apaan sih Des? Pagi-pagi udah bikin ribut.” Nera bertanya kepada Desta.

“nih, baca nih majalah?” Desta memberikan majalah itu kepada kami.

Nera membaca halaman yang Desta maksud. Ternyata berisi tentang Nera, majalah itu memberitakan bahwa Nera sudah meninggal, aku tak percaya apa yang majalah itu tuliskan. Mungkin karena Nera menghilang begitu saja dan tidak pernah muncul lagi sebagai model.

“apa-apaan si ni majalah? Apa dia mau menghancurkan karir gue? Gue mau nelpon manager gue dulu, gue mau Tanya sama dia apa dia gak bilang kalau gue lagi liburan?” Nera segera masuk kedalam rumah.

Aku dan Desta mengikutinya.

“halo, mas Danu? Mas ini aku Nera. Mas apa-apaan sih, kenapa mas diam aja kalau aku dibilang sudah meninggal, aku bilangkan aku sedang liburan. Pokoknya aku gak mau tahu mas harus kasih statmant kalau aku sedang liburan dan belum meninggal?” Nera terlihat sangat kesal dan menutup telponnya.

“elo sabar aja ya Ner?” aku dan Desta berusaha menenangkan Nera.

“gue harus nelpon Bima dan sekarang juga gue harus keJakarta untuk konferensi pers, gue gak mau kalau gue dibilang udah meninggal?” Nera segera menelpon kak Bima dan meminta kak Bima menjemputnya sekarang juga.

Aku dan Desta hanya terdiam melihat Nera, yang aku dan Desta kenal sangat penyabar dan begitu baik hati ternyata bisa juga sangat marah seperti kali ini. Tak berapa lama kak Bima datang, Nera langsung naik mobil dan menyuruh kak Bima mengantarkannya keJakarta sekarang juga.

“Dhe,Des kalian gak mau ikut keJakarta?” kak Bima bertanya pada kami. Aku dan Desta saling mamandang.

“IKUT…?” aku dan Desta berkata serempak dan langsung naik kedalam mobil.

Disepanjang perjalanan Nera bercerita kepada Bima tentang majalah yang menulisnya sudah meninggal.

“akukan belum meninggal, kenapa mereka tega banget nulis itu tentang aku?” Nera menangis.

“kamu jangan sedih kayak gitu? Mungkin aja ini Cuma kesalahan?” kak Bima membelai rambut Nera.

Nerapun tersenyum mendengar kata-kata kak Bima.

The Jakarta City…

Sesampainya diJakarta Nera langsung mendatangi kantor mas Danu managarnya. Nera langsung membawa mas Danu keRedaksi majalah yang menulis kalau dirinya sudah meninggal. Sesampainya disana kami tahu Ternyata yang memberikan statmant Nera sudah meninggal adalah mas Danu manager Nera sendiri, ia memberikan statmant palsu karena ada seorang model yang akan dijadikan pengganti Nera. Nera terlihat sangat kecewa sekaligus emosi dan Nera menampar wajah managarnya dan memaki-makinya.

“elo bisakan ngomong baik-baik sama gue? Dan bukan pake cara kayak gini. Elo tuh jahat banget ya, selama ini gue tuh percaya banget sama elo karena elo tuh udah gue anggap sebagai kakak sendiri, tapi apa? apa yang elo lakuin kegue? Jadi selama gue liburan elo anggap gue udah mati, iya? Jawab, kenapa elo diam aja?” Nera memukuli mas Danu.

Kak Bima memeluk Nera berusaha untuk menenangkannya.

Tak berapa lama beberapa orang polisi datang karena orang dari redaksi majalah menelpon, dan polisipun segera membawa mas Danu.

Kak Bima segera minta maaf kepada redaksi majalah dan segera berpamitan dan kak Bimapun meminta kepada redaksi majalah menulis apa yang telah terjadi hari ini, agar Nera bisa lagi berkarir didunia model. Dan akhirnya Kamipun kembali pulang keBogor.

Sureprise…???

Sabtu, Kak Bima menungguku didalam mobil untuk mengantarku kesekolah.

“Dhedhe cepat dong?” kak Bima berteriak-teriak dari luar.

“ya.. sebentar, gak sabaran banget sih? Elo udah baikankan Ner? ” Nera mengangguk. Aku mencium pipi kanan dan kiri Nera dan setelah itu berangkat sekolah.

Sampai disekolah Aku mencium tangan kak Bima dan turun.

“hati-hati ya kak?” akupun masuk kedalam sekolah.

Entah mengapa aku merasa berdebar-debar pagi ini? Apa yang akan terjadi? Aku memegangi dadaku.

“hai…?” suara itu mengagetkanku.

Aku mencari sumber dari suara itu. “ya ampun kak Ibra? Sedang apa dia pagi-pagi sekali disini?” aku menjadi semakin berdebar-debar.

“eh.. kak Ibra, ada apa kak?” aku bertanya kepadanya.

“gak ada apa-apa, aku Cuma kebetulan liat kamu.” Kak Ibra mendekatiku. bibirku membentuk hurup ‘O’.

“Nanti malam kamu ada acara gak?” kak Ibra bertanya padaku.

“gak ada, memangnya kenapa?” aku balik bertanya padanya.

“gak.. gak apa-apa, aku Cuma mau ngajak kamu Dinner. Mau gak?”

‘ya Tuhan apa aku sedang bermimpi?’ aku mencubit lenganku. ‘auw sakit’ ternyata ini sungguhan.

“hei.. kenapa? Kok diam sih. Kamu gak mau ya?” kak Ibra menyadarkanku.

“eh..ah.. mau kok, tapi apa nanti apa gak ada yang marah?”kak Ibra bertanya.

“siapa yang marah, justru aku yang mau bilang kayak gitu. Nanti kakak ada yang marah gak?” aku tertawa.

“kakak bisa aja deh?” kami berduapun tertawa.

Cukup lama kami bicara.

“Dhe, aku mau ngelatih dulu ya? Oh iya nomor telpon kamu berapa? Biar nanti aku hubungin kamu.” Aku mengambil kartu namaku dan memberikannya pada kak Ibra.

“thank’s ya?” iapun pergi dari hadapanku.

Aku hanya tersenyum. Dan pergi kekelas.

“eyalah… ono opo toh? Sedari tadi senyum-senyum gak karuan?” Desta menyelidik padaku.

Aku tersenyum dan mengingat kembali kejadian yang baru saja kualami. ‘betapa bahagianya aku? Dinner! Ah…? Aku sudah tak sabar menunggu malam hari.

“hei.. cerita dong sama gue?” Desta bersungut padaku.

“iya-iya gue baru mau cerita sama elo.” Aku berusaha membela diri.

“apa-apa?” Desta tak sabar. Aku menceritakan semua kejadian tadi pagi kepadanya.

“wuah… hebat. Pesat banget kemajuan elo?” Desta mengelus bahuku. Aku hanya tersenyum.

“terus nanti elo pergi sama dia dong?” aku mengangguk.

“good luck aja deh?” Desta memberiku semangat.

Candle light Dinner… (so sweet!)

Kak Ibra menjemputku dirumah. Setelah ia menelponku.

“Dhe, itu siapa?” kak Bima bertanya padaku. Aku tersenyum.

“udah nanti aku jelasin?” Nera membawa masuk kak Bima.

“gimana, udah siap?” aku mengangguk.

Aku serasa bermimpi. Sekarang aku sedang duduk berhadapan dengannya. Ya.. kak Ibra, cowok yang sudah lama kudambakan.

“kamu kenapa, kok dari tadi diam aja?” kak Ibra menyadarkanku yang sering melamun akhir-akhir ini.

“eh..ah..! gak apa-apa kok? Aku Cuma lagi dengerin musiknya. Merdu banget.” Aku berusaha mencari alasan.

“kamu, udah punya cowok?” aku kaget ketika kak Ibra tiba-tiba bertanya seperti itu padaku.

“memangnya kenapa?” kak Ibra mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dan diberikan padaku.

“ini apa?” aku tak mengerti.

‘akukan gak ulang tahun hari ini?’ batinku bicara.

“buka aja? Nanti juga kamu tahu!” aku membuka bungkusan itu.

‘ya ampun sebuah cincin dan terdapat namaku juga nama kak Ibra.

“kamu mau jadi pacar aku?” aku terdiam karena shock.

Aku tak menyangka akan secepat ini.

“Dhe..?” ia bertanya lagi.

“iya.. tapi?” aku bingung.

“tapi apa? Kamu udah punya cowok ya?” kak Ibra bertanya lagi.

“gak kok aku belum punya cowok.”

“terus kenapa? Kamu mau gak jadi pacar aku?” kak Ibra meyakinkan.

“kak akukan baru kenal kakak, kakak juga belum kenal dalam sama aku?” aku bertanya pada kak Ibra.

“aku juga tau, tapi aku mau kalau kamu mengenal aku dengan baik. Dan  status kitapun sudah jelas. Kamu maukan jadi pacar aku?” kak Ibra kembali bertanya padaku.

“ya, aku mau?” kak Ibra tersenyum.

Aku tahu ini adalah hasil dari kesabaranku menunggu saat dimana. Saat ini aku alami. Mungkin kalau dulu aku bertindak ceroboh, saat seperti ini tak akan pernah kualami.

Dengan penuh rasa bahagia aku menerima kak Ibra menjadi pacarku. Seseorang yang kini melindungiku. Ya walaupun dulu Radi yang aku sayangi, tapi aku tak pernah merasakan debaran keras dijantungku saat bersama Radi. Tidak begitu dengan saat aku berada didekat kak Ibra. Jantungku seakan berdebar melebihi kekuatan yang seharusnya.

CINTA mempunyai sesuatu yang sangat berharga. Yang mungkin tak dapat dilihat oleh mata, tetapi hanya hati yang tulus yang benar-benar akan merasakan dan melihatnya.

My life in My Dream…

“wah-wah… kayaknya ada yang lagi happy banget nih, ada apaan sih? Oh iya gimana semalam dinnernya sukses gak?” Desta duduk disampingku. Hari ini adalah hari minggu liburan yang benar-benar menyenangkan. Aku hanya tersenyum.

“ih.. ayo dong cerita gimana semalam?” Desta mengguncang-guncang tubuhku.

Nera datang membawa minuman dan makanan untuk kami bertiga.

“iya nih dari semalam gue Tanya dia Cuma senyum-senyum aja, gila kali!” Nera duduk.

“enak aja, gini lo. Semalam gue udah jadian!”

“APA?” Nera dan Desta berkata bersamaan.

“elo gak bercandakan Dhe?” Nera bertanya lagi.

“ya gak lah ngapain gue bercanda?” aku tersenyum.

Desta dan Nera memelukku.

Kapan dan dimanapun aku pergi saat ini aku merasakan bahagia dan terlindungi, karena aku bersamanya. Ya Ibra, ia sekarang bersamaku dan menjadi bagian dari hidupku. Aku sangat bahagia bersamanya. Hari ini aku dan kak Ibra jalan berdua untuk yang pertama kalinya. Pulang sekolah aku dijemput dan kami pergi untuk mencari sedikit kegiatan.

“Dhe.. kamu mau makan apa?” kak Ibra bertanya.

“aku..?” aku bingung memilih menu makanan.

“sama kayak aku aja yah?” aku hanya mengangguk.

“nasi goreng sea foodnya dua orange juicenya juga dua.” kak Ibra memesan makanan pada pelayan.

“itu aja mas?” pelayan itu memastikan.

“ya itu aja.” Kak Ibra memastikan.

“tunggu sebentar ya  mas?” pelayan itupun pergi mengambil pesanan kami.

“aku gak pernah nyangka, kalau aku akan jadi cewek kakak dan bisa sedekat ini sama kakak?” aku berbicara pada kak Ibra.

Kak Ibra hanya tersenyum.

“aku juga, kamu tau gak? Aku tuh sebenarnya udah lama perhatiin kamu. tapi, karena aku pikir kamu itu ceweknya Radi jadi aku gak berani deketin kamu.” Aku terdiam mendengar nama Radi.

“kamu kenapa?” kak Ibra terlihat bingung.

“aku gak apa-apa, aku Cuma inget…?” kata-kata ku terhenti dan aku mulai mengeluarkan air mata.

“apa omonganku ada yang salah, atau kamu lagi sakit ya?” kak Ibra mendekatiku dan memelukku.

“maaf…?” kak Ibra tersenyum.

“Dhedhe…?” tiba-tiba Radi datang dan menatapku tak percaya. Kak Ibra menatapku bingung.

“jadi semudah ini kamu dapetin pacar baru?” Radi memojokkanku dengan perkataanya.

Kak Ibra tak mengerti.

“gue bukan cewek kayak gitu, elo aja yang brengsek. Elo udah mengkhianati gue masih bisa ngomong kayak gitu sama gue?” aku tak menerima semua perkataan yang Radi katakan.

“sory-sory, ada apa ini?” kak Ibra bertanya.

“sory bang, dia itu cewek gue?” Radi menarik tanganku. Aku berusaha memberontak.

“apa…?” kak Ibra menatapku.

“denger…! gue bukan cewek elo lagi, jadi jangan pernah ganggu gue lagi?” aku berteriak membuat seisi restaurant menoleh.

“kak please bawa aku pergi dari sini?” kak Ibra mengangguk dan segera membayar lalu membawaku keluar dari restaurant.

Ternyata Radi masih mengikuti aku dan kak Ibra keluar restaurant.

“tunggu dulu Dhe, kamu harus jelasin ini semua ke aku?” radi menarik tanganku.

“apa lagi yang harus aku jelasin sama kamu? Kamu tuh bukan siapa-siapa aku lagi, jadi jangan pernah ganggu aku lagi sekarang?” aku menggenggam erat tangan kak Ibra.

“sorry Di, mungkin gue gak tau gimana persoalannya tapi gue mohon elo jangan buat Dhedhe nangis, gue paling gak bisa kalau liat cewek nangis?” Radi terlihat sangat kesal dan pergi meninggalkan kami berdua.

Radi mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang tinggi saat melewati kami.

Ditempat kost kak Ibra aku hanya menangis tak tahu apa yang harus kuceritakan pada kak Ibra.

“sebenarnya apa yang terjadi? Aku gak ngerti.” Kak Ibra mendekatiku. Aku memeluk kak Ibra.

“aku gak tau harus mulai dari mana?”aku menjelaskan.

“aku tau, tapi lebih baik sekarang kamu tenangin diri kamu dulu, nanti kalau kamu sudah merasa tenang baru kamu ceritain semuanya. Aku ambil minum dulu ya?” aku mengangguk, dan kak Ibra pergi kedapur.

Lama aku mencoba menenangkan diri dan kak Ibra tak juga datang. Dan setelah merasa sudah sedikit tenang aku pergi mencari kak Ibra. Aku mencari kak Ibra kedapur dan ketika aku masuk kedalam dapur aku kaget dan tak percaya apa yang sedang kulihat. Kak Ibra tergeletak dilantai dapur dengan wajah yang pucat.

“kak… kakak kenapa? Bangun kak bangun…?” aku mengguncang-guncang tubuhnya.

Tapi kak Ibra tak juga bangun.

Aku segera berlari keruang tengah dan menelpon kerumah untuk meminta pertolongan kepada kak Bima. Tak lama kak Bima,Nera dan Desta datang membawa ambulan.

Dirumah sakit aku terus-terusan menangis.

“tenang Dhe, Ibra gak akan apa-apa?” kak Bima berusaha menenangkanku.

“aku gak akan bisa tenang?” aku memeluk kak Bima.

Nera dan Destapun berusaha menghiburku.Aku kaget ketika dokter keluar dari kamar kak Ibra dan memberitahukan penyakit kak Ibra. Ternyata kak Ibra mempunyai penyakit kanker darah.

Kak Ibra membuka matanya setelah empat jam tak sadarkan diri.

“kak Ibra…?” aku berbisik lembut kepada kak Ibra. Kak Ibra menoleh kearahku dan tersenyum.

“kamu gak apa-apakan Dhe?” kak Ibra bertanya padaku.

“kok kakak malah Tanya aku sih?” aku memegangi erat tangan kak Ibra. Ka Bima menarik tangan Nera dan Desta untuk keluar.

“kenapa?” Desta bertanya.

“biarkan mereka bicara berdua saja?” kak Bima menjelaskan.

Desta dan Nera mengangguk.

Seminggu setelah keluarnya ka Ibra dari rumah sakit. Aku selalu datang ketempat kostnya membawakan makanan buatanku yang dibantu Nera dan Desta. Aku sangat mencemaskan kak Ibra dengan keadaannya yang sedang kurang sehat.

“aku mau kakak makan?” aku membujuk kak Ibra untuk makan.

“nanti aja?” kak Ibra menolak.

“kak, kakak mau kalau…?” kalimatku menggantung.

Kak Ibra menoleh.

“mati…?” kak Ibra berkata pelan.

Aku menggeleng.

“hidup dan mati itu ditangan Tuhan Dhe, biarpun aku gak makan seminggu kalau umur untuk hidup aku masih panjang ya.. aku gak akan mati. Tapi jika sebaliknya biarpun aku banyak makan dan banyak minum obat kalau besok waktunya aku mati ya percuma?” kak Ibra mendekatiku dan membelai rambutku.

Dadanya yang bidang membuatku merasakan kehangatan berada dipelukannya. Kak Ibra melepaskan pelukannya dan menatapku penuh kasih sayang. Ia mendekatkan bibirnya dengan bibirku dan akhirnya menyatu. Kurasakan desahan napasnya yang lembut dan hangat yang membuatku semakin menyayanginya.

“maaf aku gak bisa kasih kamu apa-apa?” kak Ibra membelai rambutku.

“semua ini sudah lebih dari cukup, kakak gak perlu kasih aku apa-apa lagi?”.

Aku merasakan kehidupan yang begitu hangat yang menyelimutiku. Selama ini hanya kepahitan yang aku dapatkan. Mulai dari mama yang meninggalkan aku sejak lahir dan pengkhianatan yang Radi lakukan padaku seakan hilang dan tergantikan oleh sebuah kehidupan yang baru. Aku merasakan cinta yang tulus didalam Diri kak Ibra yang membuatku tak rela jika harus kehilangannya.

Ini Hidup Gue…!

Kini aku sudah menjadi seorang mahasiswi disalah satu Univesitas diBogor. Kak Ibra sering menjemputku setelah selesai kuliah.

Kak Ibra menjadi salah satu karyawan diBank. Sebenarnya kak Ibra ingin sekali masih menjadi pelatih basket tetapi keadaan sudah tak memungkinkan.

Kehidupanku berjalan seperti biasanya kuliah,Dinner,liburan bersama Kak Ibra,kak Bima,Nera tapi tak bersama Desta karena Desta sedang berada diLondon untuk meneruskan kuliahnya.

Aku dan kak Ibra duduk dibangku taman kampusku.

“Dhe, aku mau kerumah dan bicara Dengan Bima?”kak Ibra menggenggan tanganku.

“bicara apa penting ya?” aku bertanya.

“iya ini penting banget.” Kak Ibra mengedipkan sebelah matanya.

“apaan sih?” aku memukul bahunya pelan.

“nanti juga kamu tau?” kak Ibra mengedipkan mtanya.

“apa sih jangan bikin aku penasaran dong?” kak Ibra hanya tersenyum dan mengajakku pulang.

Sesampainya dirumah kak Ibra berbicara kepada kak Bima bahwa Dia ingin menikah denganku aku sangat terkejut sekaligus bahagia dengan apa yang kak Ibra katakan. Aku segera memeluk kak Ibra.

“aku seneng banget, ternyata kakak udah mikirin semuanya. Aku pikir Cuma aku aja yang berniat seperti itu?” kak Ibra membelai rambutku.

Setelah malam itu aku dan kak Ibra sibuk menyiapkan kartu undangan,gedung dan gaun pengantin yang akan aku dan kak Ibra pakai disaat hari pernikahan. Aku sangat menikmati kebersamaanku dengannya.

“besok mama mau keBogor dan ingin bertemu calon menantu, jadi besok pulang kuliah aku jemput kamu dan kita akan makan siang bersama mama, kamu maukan?” kak Ibra menggenggam tanganku.

“mama aja yang datang, Rexa gak ikut?” kak Ibra hanya mengangguk.

“kenapa Rexa gak ikut?” kak Ibra menatapku. Aku mengerutkan dahiku.

“Rexa ada ujian sekolah.” Kak Ibra menjawab.

“ya udah besok kakak jemput aku?” kak Ibra mengangguk.

Entah mengapa hari ini kak Ibra terlihat murung tidak seperti biasanya yang misterius dan tidak dapat ditebak apa yang sedang ia rasakan, tapi kali ini seakan aku bisa membaca raut wajahnya yang menampakan suasana hatinya sedang merasa kurang nyaman.

Aku mengerti kak Ibra, jadi aku hanya diam tak mengatakan apa-apa. Kak Ibra menoleh kearahku sambil tersenyum, membuatku menjadi semakin bingung.

“kenapa? Apa ada yang aneh diwajah aku?” kak Ibra menggeleng.

“terus kenapa tersenyum? Atau jangan-jangan kakak lagi korslet ya?” aku memegang kening kak Ibra.

“kamu apaan si Dhe, kamu pikir aku udah gak waras?” aku tersenyum. Kak Ibra menggelitiki aku.

“maaf-maaf, aku bercanda kok?”kak Ibra tersenyum.

“ya udah pulang yuk?” belum aku menjawab, kak Ibra menarik tanganku dan menyuruhku naik kemotor dan mengantarku pulang.

Mama Mertua…

Esok harinya aku bertemu dengan mama kak Ibra yaitu tante Yana. Tante Yana sangat baik dan sayang kepadaku hingga membuatku seperti anaknya sendiri. Kami bertiga makan siang dan mencari gaun pengantin untukku pakai pada hari pernikahanku yang tinggal tiga minggu lagi. Setelah selesai tante Yana pamit pulang keBandung karena Rexa tidak bisa ditinggal telalu lama, apalagi sekarang Rexa sedang ujian sekolah.

“tante bener mau pulang sekarang?” aku bertanya pada tante Yana.

“iya, eh tapi jangan panggil tante lagi dong? Panggil aja mama kan sebentar lagi kamu jadi istrinya Iib.” Tante Yana memanggil kak Ibra dengan nama kecil nya.

“ya udah mama hati-hati ya?” tante Yana mencium keningku dan memelukku.

“kamu juga jaga kesehatan ya?” aku mengangguk.

Tante Yana memeluk kak Ibra.

“kamu harus jaga Dhedhe baik-baik? Dhe salam ya buat kakak kamu Bima, maaf mama tidak bisa datang kerumah kamu?” tante Yanapun masuk kedalam mobil yang sudah datang menjemputnya.

“iya ma, hati-hati ya?” akupun melambaikan tanganku.

“ya udah yuk kita pulang?” aku mengangguk dan menaiki motor untuk pulang.

Married…???

Satu minggu ini aku sangat sibuk sampai-sampai kuliahkupun kutinggalkan. Aku menyiapkan semua diRumah kost kak Ibra.

“Dhe, gaun pengantinnya sudah datang?” kak Ibra memanggilku dari luar. Aku segera berlari menemui kak Ibra.

“nih, gaunnya?” kak Ibra memberikan bungkusan yang didalamnya terdapat gaun pengantin untukku dan pakaian untuk kak Ibra. Aku segera membawanya kekamar untuk kufigthing.

Aku tersenyum-senyum sendiri melihat bayanganku yang sedang memakai gaun pengantin dicermin, aku baru tersadar bahwa tubuhku sedikit lebih kurus dari pada biasanya.

“Dhe.. kamu sedang apa? Sekarang kita harus mengambil undangan?” kak Ibra mengetuk-ngetuk pintu kamarku.

“iya sebentar aku lagi coba gaun pengantinnya, kakak tunggu sebentar, nanti aku nyusul?”aku sedikit berteiak.

“ya sudah tapi jangan lama-lama?”

“iya-iya?” akupun melepaskan gaun pengantinku dan segera menemui kak Ibra.

“gimana udah?” kak Ibra bertanya, aku mengangguk.

Kamipun segera pergi untuk mengambil undangan pernikahan kami.

The Hospital…??? & The DIE…!!!

Dua minggu lagi pernikahan kami, aku menemui kak Ibra ditempat kostnya seperti biasa tapi tiba-tiba kak Ibra  kembali merasakan sakit bahkan kali ini sampai muntah darah. Aku segera memanggil taksi dan membawa kak Ibra kerumah sakit. Aku tidak tahu kalau penyakitnya bisa kambuh lagi, aku pikir kak Ibra sudah sembuh karena sudah minum obat secara teratur. Tapi keadaanya kali ini amat parah sehingga membuatku tak dapat meniggalkannya walau sedetikpun. Kak Bima datang bersama Nera.

“bagaimana keadaanya?” kak Bima bertanya padaku.

“aku juga belum tahu?” aku menangis dan Nera segera memelukku.

Dokter keluar dari ruang gawat darurat.

“bagaimana dok keadaan kak Ibra?” aku bertanya kepada dokter.

Dokter menggelengkan kepalanya.

“kenapa dok? Kenapa?” aku terduduk lemas kelantai.

“sebaiknya kalian lihat sendiri keadaannya didalam?” kak Bima dan Nera membantuku untuk berdiri dan masuk kedalam ruangan kak Ibra.

“kak, kakak…?” aku berbisik kepada kak Ibra.

Kak Ibra menoleh dengan wajah yang sudah sangat pucat. Ia sudah tidak bisa lagi berbicara karena kondisinya yang amat buruk.

“sebentar lagi kita mau menikah, kakak jangan tinggalin aku ya?” aku menggenggam erat tangan kak Ibra.

“aku punya puisi untuk kakak, aku bacakan ya?” aku langsung mengambil kertas yang berisi puisi.

Sebenarnya puisi itu akan kuberikan kepada kak Ibra jika hari pernikahanku sehari lagi.

My Soul…

Didalam kesedihan kau menemaniku

Kau memelukku dikala dingin

Rasa yang kurasakan dan kuresapi

Merasuk dalam jiwaku yang penat

Memberikan ketenangan dan kesejukan

Kau tahu aku sangat mencintaimu

Karena kau yang membuat kutertidur

Lama aku mencari apa artinya cinta

Ternyata kau memberikan jawabannya

Hari demi hari kau taburkan bunga dihati

Kini kau akan menjadi pendampingku untuk selamanya

Kau tahu aku telah lama menantikan ini

Menantikan kau duduk disampingku berhiaskan mahkota

Mahkota yang terbuat dari kasih sayang

Kutuliskan ini untukmu

Untukmu yang paling kusayangi

 

     Kak Ibra menatapku penuh kepedihan, aku merasa kalau kak Ibra sangat menyesal karena tidak dapat menjawab pertanyaanku. Aku tahu dia kesakitan dengan penyakitnya yang sedang menggerogoti tubuhnya.

“kak, aku sayang banget sama kakak. Kakak tau gak dulu aku sering banget merhatiin kakak karena aku sangat kagum dan menyukai kakak. Dan ketika aku tahu bahwa kakakpun menyukaiku aku merasa sangat bahagia, aku mau kita sama-sama lagi? Aku mau kakak tetap disampingku, gak terbaring disini? Aku mau kakak sembuh?” aku memeluk kak Ibra sambil menangis.

Kak Ibra tersenyum dan didalam pelukanku kak Ibra menghembuskan napas terakhirnya.

“kak… kakak bangun? Bangun kak, bangun? Jangan tinggalin aku?” aku mengguncang-guncang tubuh kak Ibra.

Kak Bima dan Nera berusaha menenangkanku. Dan aku terkulai tak sadarkan diri.

Setelah aku sadarkan diri, aku melihat tubuh kak Ibra yang terbalut oleh kain putih yang membuat hatiku menjadi sangat pilu. Aku tidak mampu mendekati kak Ibra, hatiku benar-benar hancur menerima kenyataan yang menyakitkan ini. Setelah dishalatkan kak Ibrapun dimakamkan.

Pemakaman sudah sepi tapi aku tak sanggup meninggalkan kak Ibra sendiri dipemakaman.

Tante Yana datang bersama rexa. Aku memeluk tante Yana.

“maafkan tante ya Dhe?” tante Yana meminta maaf kepadaku. Aku tidak bisa bicara apa-apa dan hanya menangis.

“Dhe sudah sore sebaiknya kita pulang?” kak Bima membujukku untuk pulang. Kak Bima memapahku untuk berdiri dibantu Nera.

“aku gak mau ninggalin kak Ibra sendirian disini, aku mau bersama kak Ibra. Kak, kakak… jangan tinggalin aku?” kak Bima memelukku.

“kamu harus ikhlaskan Ibra, Ibra akan sedih kalau tahu kamu seperti ini. Sudah sore sebaiknya kita pulang?” Tante Yana membujukku.

Akhirnya dengan sangat berat aku meninggalkan pemakaman kak Ibra.

Aku selalu pergi kepemakaman kak Ibra setiap pulang kuliah

Tahun ke 7…

Aku tersadar dari lamunanku, Damai dan sunyi menyelimuti kamarku. Sudah tujuh tahun setelah kejadian itu. Kejadian dimana maut mengambilnya dari sisiku untuk selamanya. penyakit kanker darah kak Ibra  sudah stadium akhir dan tak ada obatnya. Saat itu aku hanya bisa berdo’a untuknya. Untuk kesembuhannya.

Ia pergi meninggalkanku, disaat hari pernikahanku sudah tinggal dua minggu lagi. Ya.. aku tak bisa melawan takdir.

Kupandangi taman diluar kamarku sambil memeluk bola basket yang kak Ibra berikan padaku. Mawar merah itu bermekaran.

“indah…! Seandainya saja kau masih ada? Mungkin kini aku mamandangi mawar itu bersamamu!” pikiranku melayang. Seorang diri dikamar ini.

Tujuh tahun sudah aku menjalani hidup seorang diri.

“Dhe, ayo makan dulu?” Nera mengajakku makan.

Aku menuruni tangga menuju meja makan. Kak Bima sudah menunggu.

“maaf kalau aku lama?” kak Bima hanya tersenyum.

“sudah-sudah lebih baik sekarang kita makan dulu?” Nera mempersilahkan.

→♥←

Kini aku bersamanya. Menjalani hidup yang penuh dengan warna. Walupun raganya sudah tak bersamaku. Tapi cintanya masih menjagaku sampai saat ini dan aku masih mencintainya untuk selamanya.

Aku menjadi seorang karyawan disalah satu sebuah perusahaan swasta diBogor. Aku datang keUniversitas yang dimana aku pernah menjadi mahasiswi disini. Aku seperti merasakan kembali saat-saat kubersama dengan kak Ibra. Ia selalu menjemputku saat selesai kuliah.

Aku menatap bangku taman yang sering kutempati hanya untuk sekedar melepas kepenatan setelah selesai semua mata kuliahku. Tentu saja bersamanya. Aku masih sama seperti kau masih menjemputku disini. Dan kini aku kembali lagi ketempat ini untuk kau jemput kembali.

     Sekali saja kau menjemputku lagi…?

Mungkin aku akan sangat merasa bahagia.

Tapi tidak mungkin kau sudah pergi untuk selamanya dan tak akan menjemputku disini.

Sebuah cahaya yang kudapatkan

Menemani dalam setiap waktuku

Melepaskan seluruh jiwa dan raga

Menempatkannya dalam-dalam

Terpaku masih ku disini

Ditempat kau bersamaku

Melepaskan rindu dan cintaku

Adalah kau yang selalu kuinginkan

Dan dapat membuatku melayang

Melayang keatas langit yang luas

Meratap dalam ketidakberdayaan

Melawan semua yang ditetapkan

Ingin rasanya ku memberontak

Tapi aku tak pernah kuasa

Tak pernah kuasa melawan takdir

Takdir dan suratan yang telah ditetapkan

Walaupun menyakitkan…

 

Kutuliskan rinduku padanya dalam selembar kertas.

Masih dalam ketidak berdayaan. Kutatap langit Biru dan berawan putih.

“lembut… andaikan saja aku bisa bersamamu, mungkin aku akan memelukmu erat agar tak bisa terpisahkan lagi.”

Aku menceritakan semuanya kepada Desta yang baru pulang dari sekolahnya diLondon. Desta memelukku erat dan seakan sedikit memberikan ketenangan dan kehangatan. Yang pernah aku rasakan saat berada dalam pelukan Ibra. Orang yang sangat kucintai, karena Ialah cinta terakhirku.

 

The end…

 

 

 

 

 

 

Curhat penulis:

Disetiap selang waktu yang aku punya, aku selalu menyempatkan diri untuk menulis. Mulai dari menulis puisi atau sekedar cerpen-cerpen. Dan dari mulai menulis cerpen aku terinspirasi untuk membuat sebuah cerita yang lumayan panjang dan akhirnya menjadi sebuah novel yang diilhami dari pengalaman hidupku dan fiksi yang kutambahkan agar cerita ini tidak membosankan.

→♥←

Didalam cerita ini aku banyak menyisipkan puisi-puisi buatanku yang kutuliskan untuk seseorang yang membuatku menjadi seseorang yang tegar dan semakin bijaksana dalam menghadapi berbagai kesulitan didalam hidupku.

→♥←

Sedikit curhat, cerita tentang pelatih basket disekolahku yang aku sukai sejak aku duduk dibangku SMA kelas satu hingga kini dan menjadi kenangan yaitu “Kasih Tak Sampai” hiks…hiks…? Sedih banget!

 

 

 

 

 

 

 

 

Thank’s to:

ALLAH SWT yang telah memberikan kesabaran untuk menyelesaikan tulisan ini dan memberikanku kesehatan jasmani dan rohani dan semoga ALLAH selalu memberikan limpahan rakhmatnya kepadaku (amin). →☺←

Thank’s juga untuk my Father and my Mother… yang udah beliin komputer buat Ayu, dan bisa berkarya seperti sekarang. Moga-moga Ayu bisa menjadi anak yang berbakti (amin…) Adek Ayu, (Hadi…) yang paling nyebelin and Alwi (diSurga), sepupu-sepupu… Ayu yang kadang-kadang bikin Ayu bingung dan gak bisa disebutin satu-persatu, sory guy’s…? →☺←

And thank’s for your my dream and my love not to arrive… (p-b).

Karena cerita ini terinspirasi olehmu yang sejak pertama melihatmu membuatku tak berdaya. (E…H…M) →☺←

Moga Tari bisa terus mengingat kalian semua sampai kapanpun (amin…)

Tari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“My basket ball”

hedhe cewek manis yang mempunyai dua orang sahabat yaitu, Desta dan Nera.

Menyukai seorang cowok. Yaitu pelatih basket disekolahnya.

Tapi ia sudah mempunyai cowok pemain basket yaitu Radi… yupz…! Tetapi disaat itu Nera sahabatnya pindah sekolah. Datangnya Nera kembali dengan tidak mengenalinya. Dan Radi yang mengkhianatinya,Yang membuatnya shock berat. Setelah semua kejadian yang menimpanya disekolah, datang lagi masalah

Dengan mamanya yang sudah tujuh belas tahun meninggalkannya dan tiba-tiba pulang. Dan kehidupannya disekolah bersama teman-temannya. Apa yang sebenarnya tejadi?

Dhedhe Remaja yang baru tumbuh untuk mencari jati diri ini. Harus menghadapi peliknya kehidupan, sampai ia menemukan kebahagianpun ia masih harus menghadapi sebuah tragedy yang menyakitkan. Semua kejadian itu datang silih berganti didalam kehidupannya. ‘Mampukah ia mengatasinya? dan Apa yang akan terjadi selanjutnya?…’