I Hate Valentine Day’s…???

     KENALIN nama aku Ayu, umurku 17 tahun. Kata orang sih.. umur segitu lagi manis-manisnya karena… semua cerita tentang cinta dan persahabatan yang lagi di alami. Emang betul sih, aku juga lumayan setuju tentang pendapat itu karena, aku sekarang ini lagi ngerasain banget yang namanya persahabatan dan ‘ehm…!’ jatuh cinta. Oh my God? So sweet…

Hari ini tanggal 13 february dan sebentar lagi hari yang semua cewek tunggu-tunggu karena pada tanggal 14 february adalah Valentine day. Yupss… tentu aja aku juga salah satunya yang seneng banget nunggu hari itu plus deg-degan gitu.

“La, valentine bentar lagi nih. Elo mau kasih apa ke Andre?” aku bertanya pada Lala.

Lala menoleh sambil tersenyum.

“gue mau kasih sweter yang baru aja gue beli kemarin di Outlet langganan gue and kakak gue.” Lala berdiri dan menghampiri lemari pakaiannya mengambil sweternya dan menunjukkannya padaku.

“gimana bagus gak? Harganya lumayan bikin gue harus relain sepatu yang udah lama gue pingin dan sekarang gak jadi gue beli.” Lala duduk di tepi tempat tidurnya.

Aku bangun dari posisiku semula dan menghampirinya.

“elo sih enak udah nemuin barang apa yang mau lo kasih kecowok lo, nah.. gue mau kasih apa?” aku bediri dan bercermin merapikan rambutku yang agak sedikit berantakan.

Lala bingung dengan perkataanku. Lala menghampiriku sambil membalikkan tubuhku.

“elo mau kasih apa?” kesiapa?” Lala menatapku penuh kecurigaan.

Ya ampun aku lupa, kalau aku ini belum memberi tahu kepada Lala jika aku sudah resmi jadian dengan Rendra sahabatku waktu kami duduk dikelas dua. Aku menjadi bingung apa yang harus kukatakan, aku belum siap mengatakan yang sebenarnya tentang hubunganku dengan Rendra karena aku tahu Lala kurang menyukai sifat Rendra yang menurutnya suka mempermainkan cewek.

“hehehe… gue lupa, guekan udah putus sama Galih?” aku menundukkan kepalaku karena takut jika Lala tahu aku berbohong.

“gue tahu, elo susah banget lupain Galih tapi elo harus kuat ya? Gue yakin elo pasti bisa. Karena cowok bukan Cuma Galih di dunia ini.” Lala memelukku dan membuatku kaget, ternyata aku tidak sengaja terlihat merasa sedih di hadapan Lala.

Aku tersenyum, aku tahu Lala adalah sahabatku yang paling bisa diandalkan walaupun sekarang ini aku sedang berbohong kepadanya. “Lala maafin gue ya? Gue gak bermaksud ngebohongin elo tapi sekarang belum saatnya gue kasih tahu ke elo semua yang sebenarnya, yang terjadi antara gue dan Rendra.” Aku bicara dalam hati.

“kayaknya udah sore, gue pulang dulu ya? Kasian nyokap sendirian dirumah?” aku mengambil tasku dan kembali bercermin merapikan rambut dan pakaianku.

“ya udah, tapi tunggu dulu? Tadi pagi nyokap gue buat kue dan nyokap bilang gue harus kasih keelo. Tunggu ya gue ambil dulu?” aku mengangguk.

Lala berlari kecil menuju kedapur, sedangkan aku pergi menunggunya diluar. Tak berapa lama Lala kembali dengan sekotak kue ditangannya.

“nih, jangan lupa salam buat nyokap elo?” Lala memberikan kotak itu kepadaku.

Aku mengangguk dan mencium kedua pipinya.

“gue pulang dulu ya?” aku berpamitan kepadanya.

Lala mengangguk dan melambaikan tangannya padaku.

“hati-hati?” aku membalasnya dengan lambaian tangan dan anggukan.

Aku berjalan menuju rumahku karena letak rumahku hanya dua blok dari rumah Lala. Di sepanjang perjalanan aku tersenyum menatap kotak yang berisi kue, aku dan Lala sangat dekat seperti keluarga, mamaku dan mama Lala sudah sangat akrab. Aku terus berjalan di sisi jalanan komplek menuju rumahku, dan tiba-tiba sebuah motor Kawasaki berwarna hijau menghampiriku. Aku hafal betul siapa pemilik motor itu. Ia berhenti dan membuka helmnya sambil tersenyum. Senyuman yang selalu membuat hatiku berdebar-debar.

“kamu tau dari mana, aku ada di sini?” Aku bertanya pada sipemilik senyuman itu.

Ia tersenyum kembali.

“aku menelpon kerumah, dan mama kamu bilang kamu di rumah Lala.” Ia turun dari motornya dan berdiri tepat di hadapanku.

Aku mengerutkan keningku.

“tadi kamu kerumah Lala?” aku bertanya.

Ia hanya tersenyum dan menarik lenganku menyuruhku naik kemotornya. Aku hanya menurutinya. Ia menyalakan motornya dan langsung berjalan. Rendra membuka kaca helmnya untuk menjelaskan semuanya kepadaku.

“Aku tadi memang kerumah Lala tapi hanya lewat dan memastikan apa kamu masih ada di sana atau tidak, dan ternyata hanya ada Lala di depan rumahnya bersama Andre, itu berarti kamu sudah pulangkan. Dan kuputuskan kerumahmu. Dan ternyata kamu belum sampai rumah!” Rendra memberikan penjelasan kepadaku.

Rendra tahu betul jika aku belum bisa memberitahukan Lala tentang hubungan kami, Rendra tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, karena Rendra tahu Lala kurang menyukainya.

Sesampainya dirumah mama sedang berada di luar bersama tante Yana tetangga sebelah sambil minum teh. Aku turun dari motor dan mengajak Rendra masuk kedalam.

“sore tante?” Rendra menyapa mama.

Mama tersenyum dan mempersilahkan Rendra masuk kedalam rumah.

“masuk aja Ndra?” Rendra mengangguk.

“kamu mau minum apa Ndra?” aku bertanya padanya.

“apa aja deh?” Rendra menjawab.

Aku hanya mengangguk dan meninggalkannya kedalam. Setelah menaruh tas dan mengganti seragamku aku kembali keruang tamu menemui Rendra sambil membawa segelas orange juice dan kue yang diberi oleh Lala.

“nih minumnya?” aku memberikan gelas itu pada Rendra.

“thank’s, oh iya nanti malam aku mau ajak kamu dinner mau gak?” Rendra bertanya padaku dan meminum orange juicenya.

“kamu mau ajak aku dinner di mana?” aku memainkan rambutku yang tergerai. Rendra tersenyum.

Senyuman itu yang membuat aku menjadi berdebar-debar setiap kali aku mengingatnya. Aku sangat menyukainya karena kurasakan tulusnya Ia menyayangiku.

“ada deh, pokoknya kamu mau gak? Soal tempat kamu gak akan nyesel deh!” Rendra terlihat percaya diri.

“ok, kamu jemput aku ya?” aku mengiyakan ajakkannya.

“ok, aku jemput kamu jam tujuh? Dan sekarang aku pulang dulu ya?” Rendra pamit dan mencium keningku sebelum pulang.

Rendra berpamitan dengan mama dan pulang dengan motor hijaunya. Aku bicara pada mama tentang dinner malam ini, mama tersenyum dan mengiyakan aku dinner dengan Rendra. Aku sangat senang dan pergi kekamar menyiapkan pakaian untuk dinner malam ini. lama aku menyiapkan dan mencari pakaian yang akan kukenakan, akhirnya aku memutuskan memakai tanktop warna pink dan jaket dengan lengan setengah berwarna putih, dan jean’s biru seperdelapan dan juga high heal yang di serasikan berwarna pink lembut. Aku membolak-balikan tubuhku di depan cermin yang menempel di dinding kamarku yang lumayan bisa untuk tiga orang bercermin di situ.

Suara klakson motor Rendra, tepat pukul tujuh malam, aku bergegas keluar. Kutemui Rendra yang sedang duduk di ruang tamu di temani mama. Ia menatapku lama dan membuatku menjadi salah tingkah.

“ehm…!” mama membuat Rendra kaget.

Aku hanya tersenyum melihat tingkah Rendra yang linglung.

“yuk berangkat biar gak kemaleman?” aku menarik tangan Rendra.

Rendra mengangguk. Kami berdua berpamitan kepada mama dan segera berangkat.

Motor Kawasaki berwarna hijau bergerak lambat di jalanan komplek. Aku duduk di belakang memeluk erat tubuh Rendra dari belakang, dengan rambut yang tergerai tersibak angin malam yang lembut. Rendra membuka kaca helmnya.

“dingin nggak?” Rendra bertanya padaku.

“nggak apa-apa!” aku menjawab.

Rendra meminggirkan motornya. Ia membuka jaketnya dan memberikannya padaku.

“aku nggak apa-apa kok?” aku berusaha menolak.

“udah pake aja biar kamu nggak kedinginan?” Rendra memakaikan jaketnya ketubuhku.

“nanti kamu kedinginan?” aku meyakinkannya.

“nggak apa-apa, daripada kamu yang sakit. Kan nanti aku bisa kena marah mama kamu.” Aku tersenyum.

Motornya kembali berjalan, aku kembali memeluk tubuhnya. Aku sangat bahagia karena Rendra sangat menyayangiku, aku tidak akan mau meninggalkannya apapun yang terjadi. Semakin lama motor Rendra semakin kencang lajunya, aku mengisyaratkan agar berhati-hati, Rendra hanya mengangguk.

Tapi tepat di tikungan keluar komplek rumahku sebuah mobil berkecepatan tinggi datang dari arah yang berlawanan dan cahayanya yang sangat menyilaukan membuatku tak dapat melihat apa-apa, tubuhku melayang dan aku tidak ingat lagi apa yang terjadi.

Ketika tersadar aku sudah berada di rumah sakit dengan luka di kepalaku dan seluruh tubuhku, aku merasakan ada yang aneh dengan tubuhku dan ternyata lengan kiriku sudah tidak ada, aku menjerit histeris dan meronta-ronta seperti orang gila, hingga membuat semua yang ada di situ berusaha menenangkanku, seorang suster mengambil sebuah suntikan dan menusukkannya padaku hingga aku merasakan lemas di seluruh tubuhku hingga akhirnya aku tidak sadarkan diri lagi.

Seseorang mencoba memanggil-mangil namaku, aku membuka mataku dan kulihat Lala dan mama sudah berada di sampingku sambil menangis. Akhirnya aku sadar bahwa aku mengalami kecelakaan semalam, aku berusaha mengingatnya namun aku tak bisa. Aku teringat Rendra. Aku ingat kalau semalam aku bersama Rendra. Aku mencoba bangun dari tempat tidur, tapi mama dan Lala mencoba menahanku tapi itu tidak bisa membuatku kembali tidur aku berlari menanyakan dan mencari Rendra, akhirnya Lala dan mama membantuku menemui Rendra yang berada di ruang ICU. Aku masuk kedalam dan kulihat Rendra terbaring dengan selang-selang panjang yang melilit tubuhnya. Aku tidak bisa menahan tangisku melihatnya, aku memeluk tubuhnya. Aku tidak rela melihatnya begini.

“maafin aku Ndra? Aku yang bikin kamu kayak gini, maafin aku Ndra?” aku terus menangis di pelukan rendra.

Tante Ririn mama Rendra memelukku.

“sudahlah ini bukan salahmu Yu, ini memang sudah ada yang mengatur kamu harus sabar ya?” tante Ririn mencoba menenangkan aku.

“Ndra, aku sayang banget sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu?” tiba-tiba tangan Rendra bergerak.

“Ndra, kamu udah sadar Ndra? Ini aku Yuna.” Dan seketika itu juga Rendra mengembuskan napasnya yang terakhir.

Dihadapanku Rendra pergi untuk selama-lamanya.

“Ndra.. Ndra kamu gak bisa ninggalin aku kayak gini? Ndra kamu itu sayang sama akukan Ndra? Jadi kamu gak boleh ninggalin aku kayak gini? Aku gak mau kehilangan kamu, aku gak mau. Gak mau…?” mama memelukku untuk menenangkanku.

Aku tidak tahu kenapa bisa jadi seperti ini, dulu aku pikir semuanya akan baik-baik saja karena aku memiliki orang-orang yang menyayangiku. Tapi itu ternyata hanya sebatas kenangan kali ini aku benar-benar menjadi orang yang sangat kecewa, aku mempertanyakan keadilan Tuhan yang telah mengambilnya dariku. Aku merasa ini tidak adil untukku, karena aku baru saja mendapat kebahagiaan tetapi Tuhan merampasnya.

Dan kini setiap malam valentine, aku sangat membenci malam valentine karena malam itulah yang membuatku kehilangan orang yang kusayang. Ternyata hari kasih sayang itu malah merampas kebahagiaanku.

Tapi aku menyadari aku tidak boleh menyalahkan apa yang sudah Tuhan berikan padaku, Aku akan berusaha menerima semua ini dengan ikhlas dan selalu bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan walaupun hanya sekejap kepadaku kebahagiaan itu akan selalu kusyukuri.

Bogor. 13,Oktober,2006