My Momy over protective…

Akhirnya aku memakai putih abu-abu. Tahu tidak? Dulu selagi memakai putih biru aku pikir enaknya memakai putih abu-abu, karena aku merasa akan lebih bebas menentukan apa saja yang aku mau. Tetapi tidak? Aku masih saja di larang oleh mama. Aku tidak mengerti apa yang di- pikirkan oleh mama? Sehingga aku masih saja seperti anak SMP yang selalu di atur kesana kemari. “hah… please deh?” aku terus-terusan mendumal dalam hati dengan sikap mama yang terlalu overprotected dalam segala hal yang berkaitan dengan dunia remaja. “Padahal gak segitunya kali…!” aku rasanya ingin berteriak ketika mama bilang.

“Shu, kamu ini masih butuh perhatian orang tua. Apalagi kamu ini anak perempuan satu-satunya di rumah?”. Itu bunyi suara mama yang sedang memberikan peringatan kepadaku.

Apalagi kalau mama lagi kasih wejangan, karena aku sedang berbuat sedikit kesalahan.

“sayang, sebenarnya mama itu sayang banget sama kamu, jadi kamu itu harus nurut sama mama. Kamu harus jadi anak yang berbakti kepada orang tua, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuamu.” Itu baru satu wejangan yang mama kasih ke aku belum lagi yang lain-lainnya.

“cape deh…!’”kata-kata itu selalu keluar dari mulutku setelah mama selesai memberikan wejangan. Karena aku penggemar berat EXTRAVAGANZA apalagi ada salah satu pemainnya yang Aku favoritkan, yaitu tentu aja siganteng Tora Sudiro. Teman-teman satu klub dalam ice skating Akupun rata-rata penggemar berat Tora sudiro. Aku berlatih di‘PS’ alias plaza senayan. Dulu sebenarnya mama gak setuju kalau aku ikut klub ice skating karena mama pikir itu Cuma akan buang-buang waktu aja, mama sih maunya aku ikut Bimbel atau les musik. Kamu pasti gak akan tahan kalau punya ibu kayak mama Aku ini. mungkin bisa ada yang sampe gantung diri kali ya? Karena gak tahan sama sikap dan perhatian mama yang terlalu overprotected gitu.

Malam minggu ini aku di jemput Dewa, kakak kelasku plus seorang ketua osis di sekolah. Dewa mengajakku dinner, tapi ada satu hal yang bikin aku malu setengah mati yang setengahnya lagi hidup. Hehehe…! Dewa berpamitan sebelum kami berangkat tapi tiba-tiba mama bilang kalau aku harus pulang sebelum jam sepuluh malam. “Aduh… mama please deh?” dewa hanya tersenyum dan berjanji mengantarku pulang sebelum jam sepuluh malam. Akhirnya kami berangkat dengan rasa malu menyelimuti wajahku. Dewa memberikan helm berwarna merah kepadaku, dan menyuruhku naik kemotor Tigernya yang berwarna sama seperti helm yang kupakai.

“Wa, maafin mama aku ya? Kalau tadi ada yang buat kamu kurang enak?” aku mencoba menjelaskan sikap mama tadi terhadap Dewa.

Dewa membuka kaca helmnya dan tertawa.

“kamu ini ada-ada aja Shu, masa orang tua sebaik mama kamu, buat aku nggak enak? Kamu itu harusnya bersyukur punya mama yang perhatian sama kamu?” Aku mengerutkan keningku.

“tapi Wa, dia itu terlalu overprotected sama aku?” aku mengeluh.

Lagi-lagi Dewa tertawa.

“Shu..Shu, kamu itu? Mama kamu itu bukannya over atau gimana tapi dia itu takut kalau kamu kenapa-napa, naluri seorang ibu itu kuat lo Shu?” Dewa memberikan penjelasan kepadaku.

“iya deh aku tahu nggak ada yang mau belain aku, aku itu selalu salah?” Dewa hanya menggenggam tanganku yang melingkar dipinggangnya.

Motor Tiger merah yang Dewa kemudi berhenti tepat disebuah kafe yang entah apa nama kafe itu, karena tulisannya memakai bahasa jepang. Kami turun dari motor dan masuk kedalam kafe. Dewa menggenggam tanganku dan membawaku menemui seorang wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik dengan gaun berwarna hitam dengan rambut yang ikal.

“ma kenalin ini Shu yang pernah aku ceritain ke mama?” dewa memperkenalkanku kepada wanita itu.

Ya ampun ternyata wanita itu mamanya Dewa, jelas sekali wajah mereka sangat berbeda. Aku mengulurkan tanganku.

“Shu?” aku mengenalkan diri.

“jadi kamu yang sering buat Dewa nggak bisa tidur ya?” mama Dewa menggoda.

“mama…?” Dewa berusaha mengelak.

Aku tersipu malu.

“tenang aja Wa, kamu itu memang pinter cari cewek, Shu ini cantik!” Dewa mengangkat sedikit kerah pakaiannya menandakan kebanggaan.

Mama Dewa hanya menggelengkan kepala.

“ya sudah mama tinggal dulu ya?” aku hanya mengangguk.

Lagi-lagi Dewa menggenggam tanganku.

“Dadaku berdebar dengan kencang, entah apa yang sedang kurasakan perasaan apakah ini?”

Dewa mempersilahkan aku duduk, aku menurutinya dan duduk berhadapan dengannya. Setelah memesan minuman Dewa hanya terdiam.

“kamu pasti bingung kenapa aku sama sekali nggak mirip sama mama?” aku kaget ternyata Dewa menyadarinya, jika aku bingung karena Dewa tidak ada kemiripan sama sekali dengan mamanya.

“kenapa kamu tau?” Dewa tersenyum.

“ya jelaslah aku tau, kamu tadi kelihatan bingung waktu berkenalan dengan mama.” Aku menunduk.

“kamu nggak perlu merasa nggak enak sama aku, nggak apa-apa kok itukan reaksi yang wajar?” Dewa membetulkan poniku yang sedikit turun dan menutupi mataku.

“aku ini anak angkat, bukan anak kandung mamaku!” Dewa berterus terang kepadaku.

‘ya Tuhan, apa aku sudah menyinggung perasaanya ketika tadi aku memperlihatkan sikapku terhadapnya. Semoga saja tidak Karena aku menyayanginya apapun yang terjadi pada dirinya.’

“hei.. kenapa bengong?” Dewa membuyarkan lamunanku.

“eh, ah.. nggak apa-apa kok?” aku merasakan bahwa Dewa benar-benar seseorang yang begitu tegar dengan keadaannya yang seperti itu.

Biasanya seorang anak angkat akan meninggalkan orang tua angkatnya ketika dia tahu dia itu bukan anak kandung dari orang tuanya, tapi Dewa berbeda Ia selalu mensyukuri apa yang Ia dapatkan dan yang Tuhan berikan kepadanya.

Hubunganku terus berlanjut dengannya, aku begitu menyayanginya hingga aku tak ingin berpisah dengannya. Begitupun ketika Dewa pergi kejepang untuk belajar disana dengan tulus dan sabar aku menunggunya menyelesaikan studinya disana. Aku merasakan kebahagiaan yang tak dapat di gantikan oleh apapun karena Dewa membuatku menjadi orang yang merasakan kebahagiaan sepanjang perjalanan hidupku bersamanya.

Dewa yang dulu memberikanku semangat menghargai semua pesan-pesan yang di berikan mama padaku. Dewa juga yang memberikanku semangat dalam menjalani hidup. Dewa selalu mengingatkanku agar tidak meninggalkan ibadah dan menjaga keluarga agar selalu dalam lindungan Tuhan. Dewa juga yang selalu berkata “Tuhan yang menciptakan dunia ini, jadi jangan sekali-kali melupakannya. Apalagi menentangnya!” mungkin aku akan merasakan ketenangan dengan semua perkatan Dewa yang selalu membuatku merasakan semangat dalam menjalani hidup ini.

Shunia cewek yang biasa tidak mau mendengarkan wejangan dari mamanya sekarang berubah 180 derajat. Shu selalu berusaha untuk mematuhi dan mendengarkan semua perkataan mama. Itu semua karena Ia telah melihat kehidupan yang sebenarnya dari seorang Dewa.

Bogor. 13 Oktober 2006.