Ibu…

Berharap selalu membahagiakanmu, tapi pada kenyataannya aku malah semakin menyakitimu. Meyakinkan hatiku agar selalu membuatmu tersenyum, tapi yang kulakukan malah membuatmu menangis. Entah apa lagi yang bisa aku perbuat untuk menebus semua perjuangan dan kasih sayangmu kepadaku? Berapa banyak dosa yang telah kuperbuat padamu, yang telah menyakiti hatimu. Dengan apa lagi aku harus membayar semua pengorbananmu padaku dan keluargamu. Derita dan sakitmu tak pernah kau keluhkan, tak pernah pula kau hiraukan, karena bagimu keluargamulah yang terpenting. Seletih apapun harimu, kau jalankan dengan senyum dan do’a yang selalu menghiasi dan membasahi bibir dan hatimu. Kau kuatkan langkahmu dengan do’a yang selalu kau lantunkan untuk Tuhanmu. Surgaku ditelapak kakimu ibu. Entah bagaimana aku dapat meraih surgaku. Tuhan benar telah mengirimkan bidadari secantikmu ibu. Kecantikanmu tiada tara, karena kasih sayang dan perjuanganmulah yang semakin membuat kau menjadi bidadari kesayangan Tuhan.

Ibu…

Lantunan do’amu selalu kudengar.

Tangisan pedihmu kau sembunyikan.

Kasih sayangmu melimpah.

Tuhan selalu menyayangimu.

Tuhan selalu melindungimu.

Tiada lagi bidadari yang sinarnya secantik sinar kasih sayangmu.

Pelukan hangatmu adalah sebaik-baiknya tempat berlindung.